Anak Kampung Pindah Rumah
Januari 9, 2012
Untuk menyukseskan program anak kampung pikiran global, saya berinisiatif pindah rumah. Nah, ini rumah saya yang baru. lebih meriah
Ruang Hatimu Selalu Lebih Hangat Dari yang Kuduga
Desember 27, 2011
Mulanya mimpi ini sederhana saja. Hanya ingin mengekalkan senyum dua mata cinta, ayah dan ibu. Mengingat, telah
begitu banyak butiran peluh yang menguap dari tubuhmu. Belum lagi pedih dan getir yang kalian redam diam-diam. Semuanya tergadaikan, agar diri ini selalu dalam kebaikkan.
More
Dalam Keterbatasan Kita, Allah Titipkan Cinta
Desember 21, 2011
Dalam keseharian kita bisa menyaksikan, bagaimana Allah menciptakan kondisi hambaNya dengan macam rupa. Allah
lebihkan sebagiannya, dan Allah uji sebagian lainnya dengan jauh dari kata cukup. Tapi entah mengapa? diri ini lebih sering menilai semua itu sebagai fenomena hidup yang lumrah, bukan dengan kaca mata keimanan. Padahal ada cerminan cinta Allah di sana, yang semestinya bisa membuat diri ini lebih bersyukur.
Sebab, dalam segala keterbatasan yang orang lain miliki, sebenarnya bisa saja Allah limpahkan kepada kita. Akan tetapi, Allah menangguhkannya atau sama sekali memang menjaga kita agar tak mengalami keterbatasan itu. Lantas, bila hati ini bertanya di mana cinta Allah ketika itu, sebenarnya inilah cara Allah menjawab cinta.
More
Memahami Kehendak Jiwa
Desember 13, 2011
Sekali waktu mungkin kita pernah berfikir untuk menarik tuas waktu kehidupan kita. Lalu terlempar jauh ke masa
lalu. Tepatnya, saat pertama kali kita berdiri di persimpangan, lalu memutuskan untuk mengambil jalan hidup yang sekarang ini. Di sana nanti, kita hanya ingin menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan sederhana, mengapa dulu aku mengambil jalan ini?
More
Ketika Langit Cemburu Padamu
Desember 9, 2011
Tak ubahnya puisi, yang keindahannya tersembunyi dalam bait. kau terjaga dalam indahnya pilihan kata. Terjalin
anggun dalam guratan makna. Itulah pesona tentang dirimu yang pantas disematkan. Bukan kiasan yang terlontar begitu saja. Kau pantas menerimanya, karena kesungguhan dirimu menjaga diri dan sebongkah hati.
Ya. Ada pesona yang tersembunyi dalam teduhnya wajahmu. Pesona yang terpancar karena teguhnya dirimu menjaga kesucian cinta Tuhan. Kau merawatnya baik-baik. Meski terkadang kau harus rela menanggung beban, sesekali menitikkan air mata untuk meredam ketakutan. Tapi kau merahasiakan segala luka. Sebab bagimu, mengutuhkan cinta Tuhan itu adalah harta yang tak ternilai.
Pesona Melayu di mesjid Al Azizi
November 19, 2011
Cahaya matahari pecah di kubah mesjid Al Azizi, Tanjung Pura. Warna bangunannya yang kuning keemasan menjadi kian
merona. Siang itu matahari memang sedang teriknya. Setelah menempuh 2 jam perjalanan dari Medan saya turun dari Jumbo (nama angkutan Medan – Aceh), seketika itu pula saya disergap kekaguman yang tak terkira. Di hadapan saya mesjid Al Azizi berdiri dengan megahnya. Pagarnya yang luas seolah hendak memeluk siapa pun. Tunai juga mimpi itu, saya bergumam. Lalu meraih sebuah notes kecil, melingkari resolusi no 18 dalam hidup saya.
More
Mencemburui Kupu-Kupu
November 10, 2011
Sekuntum kenanga terayun-ayun basah
Jutaan tasbih di langit baru saja usai basahi bumi
Dengan kepaknya yang lembut
kupu-kupu datang coba merayu
*
Tapi kenanga tengah sibuk meneguhkan tangkainya
Sebab kuntum masih terbungkus bulir-bulir rinai
Bukan masa yang tepat menyambut jamuan
Kupu-kupu pun berlalu pasrah
More
Menceraikan Kemalasan
November 9, 2011
Rumitnya malas itu tak berwujud. Ia datang bak cendawan di musim hujan, diam-diam lalu merajai. Bagi pribadi yang
lalai, kehadiran malas memang sangat nikmat. Memanjakan sekaligus memberikan janji indah bahwa masalah akan tuntas pada waktunya.
Siapa yang tak tergoda dengan janji demikian. Masalah bisa tuntas tanpa kerja keras. Hanya saja bila kita mau jeli untuk mencermati kemalasan ini, kita akan sadar bahwa malas adalah jebakan perasaan yang tersembunyi.
More
Jalan Cinta yang Semestinya Kau Ada
November 8, 2011
Surat Terkahir Yusuf
November 2, 2011
Tak pernah-pernah rumahku kedatangan tukang pos. Sore ini saat aku dan ayah sedang duduk di serambi rumah, seorang
lelaki berseragam coklat mengejutkan kami. Tampilannya rapi. Ia datang dengan menggunakan sepeda motor berwarna orange. Ada dua buah kantong besar bergantung di jok sepeda motornya. Ia menghampiri kami, dan dengan santunnya sepucuk surat ia berikan kepada ayah.
“maaf pak, terima kasih. Saya harus buru-buru” ucapnya dengan senyum. Ketika ayah memintanya untuk masuk dulu ke rumah.
Lalu ia menyodorkan tanda terima kepada ayah. Tiba-tiba tersirat raut muka yang lain dari wajah ayah. Ah, aku paham. Ayah tak bisa menulis. Seketika kuraih buku tanda terima itu dari tangan ayah. aku pun membubuhkan tanda tanganku di bukunya.
“Terima kasih” ucapnya, dengan sopan lelaki berseragam itu pun mohon pamit.
Hatiku berdebar karena ternyata surat itu datang dari negeri nun jauh di sana, Belanda. More
Facebook
RSS
Komentar Terakhir