Tak ubahnya puisi, yang keindahannya tersembunyi dalam bait. kau terjaga dalam indahnya pilihan kata. Terjalin anggun dalam guratan makna. Itulah pesona tentang dirimu yang pantas disematkan. Bukan kiasan yang terlontar begitu saja. Kau pantas menerimanya, karena kesungguhan dirimu menjaga diri dan sebongkah hati.

Ya. Ada pesona yang tersembunyi dalam teduhnya wajahmu. Pesona yang terpancar karena teguhnya dirimu menjaga kesucian cinta Tuhan. Kau merawatnya baik-baik. Meski terkadang kau harus rela menanggung beban, sesekali menitikkan air mata untuk meredam ketakutan. Tapi kau merahasiakan segala luka. Sebab bagimu, mengutuhkan cinta Tuhan itu adalah harta yang tak ternilai.


Tak mudah memang menempuh jalan hidup yang demikian. Merawat cinta Tuhan di tengah terjalnya kehidupan. Apalagi dunia tak hentinya menggoda. Ia datang untuk menawarkan segala pesonanya, mengiming-imingi keindahan semu. Begitulah, ada saja godaanya yang bila tak awas bisa melunturkan cinta Suci itu.

Maka, kau terus berupaya untuk tak dianggap lemah terhadap dunia ini. Sehingga air matamu hanya pantas kau tumpahkan karena Tuhan semata. Terlalu mahal bila harus menggadaikan butiran bening itu untuk dunia yang tak seberapa ini, itulah sangkamu.

Hingga sekali waktu Tuhan kembali menguji. Untuk mengetahui, apakah cintaNya yang telah bersemayam lama dalam jiwamu masih ranum adanya. Ternyata, kau tak awas memahami cobaan itu. Kau terjebak pada perasaan yang terbit belum saatnya. Kau kira itu adalah perasaan yang memang pantas. Sekedar fitrah manusia dalam kehidupan.

Sehingga untuk kali pertamanya air matamu tumpah karena dunia. Langit pun cemburu. Cinta suci yang telah lama kau rawat, perlahan luntur. Tergadaikan sebongkah cinta semu pada makhluknya. Kini, kau pun kehilangan arah. Meraba jejak yang mulai hilang.

Sekarang apalagi yang melemahkanmu? Mengapa kau biarkan terus dirimu meneguk keliru. Tak kah kau lihat betapa banyak rasa yang terkuras, waktu yang tak tersita. Sementara yang kau dapat hanya keletihan yang tak berujung. Sadarkah dirimu, bahwa kau diam-diam terus dicemburui langit. Karena tak kunjung kembali ke jalan cintaNya.

Sesungguhnya ujian itu datang bukan untuk melemahkanmu. Kau memang harus melewati masa-masa itu. Agar terang padamu cinta siapa yang paling indah. Apakah cinta Tuhan yang tak terbatas, atau cinta makhlukNya yang lebih sering mengundang cemas.

Bersabarlah, untuk segala keuputusan hidup yang belum saatnya itu. Tuhan tidak diam. RencanaNya selalu lebih manis dari yang kau kira. Jangan lagi salah melangkah. Sebab langit selalu cemburu, bila ada hamba yang menggadai terlalu murah cintaNya.

Meunasah Baet, 09 Desember 2011
Pukul 09;17 WIB