<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Anak Kampung Pikiran Global</title>
	<atom:link href="http://ibnuflp.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ibnuflp.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 02:56:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ibnuflp.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Anak Kampung Pikiran Global</title>
		<link>http://ibnuflp.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ibnuflp.wordpress.com/osd.xml" title="Anak Kampung Pikiran Global" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ibnuflp.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Anak Kampung Pindah Rumah</title>
		<link>http://ibnuflp.wordpress.com/2012/01/09/anak-kampung-pindah-rumah/</link>
		<comments>http://ibnuflp.wordpress.com/2012/01/09/anak-kampung-pindah-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 13:55:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Syahri Ramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[reportase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuflp.wordpress.com/?p=1027</guid>
		<description><![CDATA[Untuk menyukseskan program anak kampung pikiran global, saya berinisiatif pindah rumah. Nah, ini rumah saya yang baru. lebih meriah www.ibnuflp.com<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=1027&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Untuk menyukseskan program anak kampung pikiran global, saya berinisiatif pindah rumah. Nah, ini rumah saya yang baru. lebih meriah <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </h1>
<h1><a title="blog ibnu yang baru" href="http://www.ibnuflp.com">www.ibnuflp.com</a></h1>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuflp.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuflp.wordpress.com/1027/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuflp.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuflp.wordpress.com/1027/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuflp.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuflp.wordpress.com/1027/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuflp.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuflp.wordpress.com/1027/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuflp.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuflp.wordpress.com/1027/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuflp.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuflp.wordpress.com/1027/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuflp.wordpress.com/1027/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuflp.wordpress.com/1027/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=1027&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuflp.wordpress.com/2012/01/09/anak-kampung-pindah-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb676e59aad2716f8cb2fe3ec13d58cf?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnusr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ruang Hatimu Selalu Lebih Hangat Dari yang Kuduga</title>
		<link>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/12/27/ruang-hatimu-selalu-lebih-hangat-dari-yang-kuduga/</link>
		<comments>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/12/27/ruang-hatimu-selalu-lebih-hangat-dari-yang-kuduga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 18:09:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Syahri Ramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuflp.wordpress.com/?p=1024</guid>
		<description><![CDATA[Mulanya mimpi ini sederhana saja. Hanya ingin mengekalkan senyum dua mata cinta, ayah dan ibu. Mengingat, telah begitu banyak butiran peluh yang menguap dari tubuhmu. Belum lagi pedih dan getir yang kalian redam diam-diam. Semuanya tergadaikan, agar diri ini selalu dalam kebaikkan. Terhadap Ayah&#8230; Maafkan aku, bila kala kecil dulu kerap keliru menilai cintamu. Aku <a href="http://ibnuflp.wordpress.com/2011/12/27/ruang-hatimu-selalu-lebih-hangat-dari-yang-kuduga/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=1024&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mulanya mimpi ini sederhana saja. Hanya ingin mengekalkan senyum dua mata cinta, ayah dan ibu. Mengingat, telah <a href="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/12/thefactandfearless.jpg"><img src="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/12/thefactandfearless.jpg?w=237&#038;h=300" alt="" title="thefactandfearless" width="237" height="300" class="alignright size-medium wp-image-1025" /></a>begitu banyak butiran peluh yang  menguap dari tubuhmu. Belum lagi pedih dan getir yang kalian redam diam-diam. Semuanya tergadaikan, agar diri ini selalu dalam kebaikkan.<br />
<span id="more-1024"></span><br />
Terhadap Ayah&#8230;</p>
<p>Maafkan aku, bila kala kecil dulu kerap keliru menilai cintamu. Aku lupa, bahwa selain sulit merapal aksara, kau juga canggung mengekspresikan cinta. Saat kukabarkan cerita yang semestinya membuatmu bahagia, Kau lebih banyak diam. Senyummu hanya sekedarnya saja. Sungguh betapa kelirunya diri ini. Bukankah semestinya aku paham. Bahwa kalau itu kau sedang letih, bukan saatnya untuk bercanda. </p>
<p>Tapi begitulah dirimu, kau tetap upayakan mengulum senyum agar aku tak kecewa. Namun, diri ini lagi-lagi keliru menilai cintamu. Sebaris senyummu rasanya tak cukup. Aku mendiamkanmu berharap kau menyapa, menanyakan kembali cerita yang baru saja terucap, memohon maaf atas kekeliruanmu itu. Namun kau tetap kukuh mendiamkanku, membiarkanku dalam kepiluan.</p>
<p>Kini, baru kusadari. Bahwa kala itu sebenarnya kau ajarkan aku untuk dewasa serta memaknai arti kecewa. Ayah, terima kasih. Kau ajarkan aku arti hidup dalam sikapmu. Kau dididik diri ini dalam isyarat cintamu yang tersembunyi.</p>
<p>Terhadap ibu&#8230;</p>
<p>Sungguh kasih sayangmu tak bertepi. Kau selalu punya cara untuk menghangatkan jiwaku. Kau redam rasa takutku dalam pilihan kalimatmu yang bijak. Bila diri ini salah dalam berprilaku, kau meluruskannya tak hanya dengan nasehat, tapi juga dalam keteladananmu. Akan tetapi, entah betapa sering diri ini keliru membaca kehendakmu. Tak pernah paham kerinduanmu terhadap diri ini seperti apa?</p>
<p>Ibu, mengenang jasamu selalu saja mengharukan. Bahkan untuk menuliskannya pun dada ini sesak, tak kuasa menahan keharuan. Kau adalah butiran cinta yang terlalu bening. Hingga pantaslah Rasulullah isyaratkan, bahwa ada syurga di bawah telapak kakimu.</p>
<p>Inilah persembahan cintaku, untuk kalian wahai dua mata cintaku. Ayah dan ibu.</p>
<p>Sungguh, ini hanyalah satu dari sekian banyak rencana kebajikan yang ingin kupersembahkan untuk kalian. Karenanya, biarlah diri ini terus menyapa  di ruang hatimu. Di sebuah ruang cinta, yang selalu lebih hangat dari yang kuduga. </p>
<p>Ruang Inspirasi, 28 Desember 2011<br />
Pukul 00;49 WIB<br />
Loving You, Kenny G. </p>
<p>(sekapur sirih skripsiku)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuflp.wordpress.com/1024/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuflp.wordpress.com/1024/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuflp.wordpress.com/1024/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuflp.wordpress.com/1024/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuflp.wordpress.com/1024/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuflp.wordpress.com/1024/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuflp.wordpress.com/1024/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuflp.wordpress.com/1024/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuflp.wordpress.com/1024/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuflp.wordpress.com/1024/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuflp.wordpress.com/1024/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuflp.wordpress.com/1024/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuflp.wordpress.com/1024/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuflp.wordpress.com/1024/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=1024&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/12/27/ruang-hatimu-selalu-lebih-hangat-dari-yang-kuduga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb676e59aad2716f8cb2fe3ec13d58cf?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnusr</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/12/thefactandfearless.jpg?w=237" medium="image">
			<media:title type="html">thefactandfearless</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dalam Keterbatasan Kita, Allah Titipkan Cinta</title>
		<link>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/12/21/dalam-keterbatasan-kita-allah-titipkan-cinta/</link>
		<comments>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/12/21/dalam-keterbatasan-kita-allah-titipkan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 11:25:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Syahri Ramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuflp.wordpress.com/?p=1018</guid>
		<description><![CDATA[Dalam keseharian kita bisa menyaksikan, bagaimana Allah menciptakan kondisi hambaNya dengan macam rupa. Allah lebihkan sebagiannya, dan Allah uji sebagian lainnya dengan jauh dari kata cukup. Tapi entah mengapa? diri ini lebih sering menilai semua itu sebagai fenomena hidup yang lumrah, bukan dengan kaca mata keimanan. Padahal ada cerminan cinta Allah di sana, yang semestinya <a href="http://ibnuflp.wordpress.com/2011/12/21/dalam-keterbatasan-kita-allah-titipkan-cinta/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=1018&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam keseharian kita bisa menyaksikan, bagaimana Allah menciptakan kondisi hambaNya dengan macam rupa. Allah <a href="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/12/bening1.jpg"><img src="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/12/bening1.jpg?w=200&#038;h=300" alt="" title="bening" width="200" height="300" class="alignright size-medium wp-image-1022" /></a>lebihkan sebagiannya, dan Allah uji sebagian lainnya dengan jauh dari kata cukup. Tapi entah mengapa? diri ini lebih sering menilai semua itu sebagai fenomena hidup yang lumrah, bukan dengan kaca mata keimanan. Padahal ada cerminan cinta Allah di sana, yang semestinya bisa membuat diri ini lebih bersyukur.</p>
<p>Sebab, dalam segala keterbatasan yang orang lain miliki, sebenarnya bisa saja Allah limpahkan kepada kita. Akan tetapi, Allah menangguhkannya atau sama sekali memang menjaga kita agar tak mengalami keterbatasan itu. Lantas, bila hati ini bertanya di mana cinta Allah ketika itu, sebenarnya inilah cara Allah menjawab cinta.<br />
<span id="more-1018"></span></p>
<p>Ya. Cinta Allah tak sama dengan cinta manusia. Allah menjabarkan cintaNya dalam cerita yang sering tak terduga. Ia hadirkan kita ditengah-tengah keluarga yang sederhana, agar kita lebih mengenal makna syukur dan sabar. Ada orang yang mengalami kecacatan fisik, mungkin Allah ingin dia lebih maksimal mengfungsikan organ tubuh yang lain. </p>
<p>Sederhananya,  segala keterbatasan itu adalah cara Allah menjaga kita untuk terus dekat denganNya. Oleh karenanya, pribadi yang terus khawatir dengan kehidupannya sekarang, yang menilai keterbatasannya saat ini sebagai penghambat hidupnya, adalah mereka yang belum mampu mengecap manisnya kasih sayang Allah  dalam sisi kehidupannya.</p>
<p>Sebab, berlapang hati dengan ketentuan Allah terhadap diri kita sekarang, bukan hanya sekedar menghibur jiwa. Jauh dari itu, ini adalah sikap yang memang harus dimiliki seorang yang mengaku beriman. Bahwa ia mempercayakan kehidupannya hanya kepada Allah semata. Totalitas kepasrahan inilah nantinya yang menggiring manusia untuk lebih siap, dan tak lagi mendesak untuk bertanya. Mengapa hidupku begini?</p>
<p>Sekarang cobalah renungkan, sebenarnya  apa yang terbayang dibenak ini, saat melihat orang  di sekitar kita yang hidupnya begitu memprihatinkan. Memiliki fisik yang tak sempurna, kondisi ekonomi yang menggetirkan, kesempatan pendidikan yang sekedarnya serta keterbatasan-keterbatasan lain yang dalam penilaian kita, semua itu adalah penghambat dalam menggapai tujuan hidup. </p>
<p>Lalu cobalah mengukur diri dengan apa yang telah Allah berikan kepada kita sekarang, dan temukan manisnya cinta Allah di sana. Karena sesungguhnya, hidup yang terasa berat bukan karena dunia yang tak bersahabat. Melainkan, karena iman yang tak terawat. Ya, dalam keterbatasan kita, Allah telah titipkan cinta. </p>
<p>“Sungguh, sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya.” (HR. Muslim).</p>
<p>Meunasah Baet, 21 Desember 2011<br />
Pukul 17;15 WIB</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuflp.wordpress.com/1018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuflp.wordpress.com/1018/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuflp.wordpress.com/1018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuflp.wordpress.com/1018/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuflp.wordpress.com/1018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuflp.wordpress.com/1018/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuflp.wordpress.com/1018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuflp.wordpress.com/1018/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuflp.wordpress.com/1018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuflp.wordpress.com/1018/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuflp.wordpress.com/1018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuflp.wordpress.com/1018/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuflp.wordpress.com/1018/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuflp.wordpress.com/1018/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=1018&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/12/21/dalam-keterbatasan-kita-allah-titipkan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb676e59aad2716f8cb2fe3ec13d58cf?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnusr</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/12/bening1.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">bening</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memahami Kehendak Jiwa</title>
		<link>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/12/13/memahami-kehendak-jiwa/</link>
		<comments>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/12/13/memahami-kehendak-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 01:40:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Syahri Ramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuflp.wordpress.com/?p=1014</guid>
		<description><![CDATA[Sekali waktu mungkin kita pernah berfikir untuk menarik tuas waktu kehidupan kita. Lalu terlempar jauh ke masa lalu. Tepatnya, saat pertama kali kita berdiri di persimpangan, lalu memutuskan untuk mengambil jalan hidup yang sekarang ini. Di sana nanti, kita hanya ingin menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan sederhana, mengapa dulu aku mengambil jalan ini? Meskipun itu <a href="http://ibnuflp.wordpress.com/2011/12/13/memahami-kehendak-jiwa/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=1014&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekali waktu  mungkin kita pernah berfikir untuk menarik tuas waktu kehidupan kita. Lalu  terlempar jauh ke masa<a href="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/12/angin.jpg"><img src="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/12/angin.jpg?w=300&#038;h=262" alt="" title="angin" width="300" height="262" class="alignleft size-medium wp-image-1015" /></a> lalu. Tepatnya, saat pertama kali kita berdiri di persimpangan, lalu memutuskan untuk mengambil jalan hidup yang sekarang ini. Di sana nanti, kita hanya ingin menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan sederhana, mengapa dulu aku mengambil jalan ini?<br />
<span id="more-1014"></span><br />
Meskipun itu adalah sesuatu yang mustahil. Tapi pikiran semacam itulah yang kerap hadir. Biasanya, pikiran semacam itu menghampiri,  kala kita benar-benar tidak begitu menikmati jalan hidup yang sekarang ini. Kita kehilangan semangat untuk melanjutkan segalanya pencapaian. Seolah jejak yang telah ditapaki, bukanlah seutuhnya kehendak kita. </p>
<p>Ini bukan cerita penyesalan. Karena kita telah memilih jalan hidup itu dengan penuh kesadaran. Ini hanyalah perasaan yang hadir, karena kita ingin mempertegas kembali arah hidup kita. Apakah benar jalan hidup yang kita tempuh sekarang ini,  sudah sejurus dengan tujuan hidup yang hendak kita capai. </p>
<p>Karena mungkin saja, keputusan hidup yang kita ambil itu adalah wujud cinta kita pada orang-orang terkasih. Kita bersedia merubah arah hidup kita, lalu merelakan diri melewati hari-hari yang letih untuk mewujudkan kehendak orang terkasih itu.<br />
Tak ada yang salah memang. Apalagi pengorbanan karena cinta adalah sesuatu yang mulia. Hanya saja kita kerap lupa, bahwa kala itu kita membutuhkan kesepakatan jiwa. Batin kita sebenarnya belum benar-benar siap, tapi kita terlalu berani untuk memutuskan segera. Akibatnya, batin ini kerap berbisik, Rasanya, dulu itu bukan aku. </p>
<p>Rasanya, dulu itu bukan aku.  Adalah bisikan yang hadir karena diri ini terus merasa asing. Kita memberi jarak sendiri antara diri kita dengan tujuan hidup. Sehingga setiap tindakan hanyalah sekedar menuntaskan kewajiban, bukan karena panggilan nurani.</p>
<p>Inilah yang menyebabkan mengapa kita tidak totalitas dalam berikhtiar. Karena kita belum terlebih dahulu menuntaskan definisi bahagia yang sesungguhnya dalam diri ini. Padahal itu adalah tuntutan jiwa yang harus dipenuhi. Sehingga hati tak bisa menerimanya. Padahal, di sanalah terbitnya kekuatan untuk berbuat. </p>
<p>Oleh karena itu, bila kita menemukan kegundahan dalam setiap langkah hidup ini. Kita tak perlu berpikir untuk memutar waktu agar kembali ke masa lalu. Cukuplah merenung sejenak, lalu memahami kehendak jiwa ini maunya apa?  Diri ini mau di bawa ke mana? </p>
<p>Bila pertanyaan-pertayaan kegusaran ini telah kita temukan jawabannya. Maka tak ada lagi rasa bimbang untuk melangkah, kita pun bisa lebih fokus dalam menempuh tujuan. Namun, bila kegusaran terus menghampiri. Jalan hidup ini tak juga menemui titik terangnya. Bisa jadi, bahwa sebenarnya, memang ada kehendak jiwa yang hingga kini belum mampu kita fahami.</p>
<p>Meunasah Baet, 13 Desember 2011<br />
Pukul 00;59 WIB<br />
Kenny G, i will be home</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuflp.wordpress.com/1014/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuflp.wordpress.com/1014/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuflp.wordpress.com/1014/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuflp.wordpress.com/1014/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuflp.wordpress.com/1014/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuflp.wordpress.com/1014/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuflp.wordpress.com/1014/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuflp.wordpress.com/1014/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuflp.wordpress.com/1014/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuflp.wordpress.com/1014/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuflp.wordpress.com/1014/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuflp.wordpress.com/1014/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuflp.wordpress.com/1014/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuflp.wordpress.com/1014/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=1014&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/12/13/memahami-kehendak-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb676e59aad2716f8cb2fe3ec13d58cf?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnusr</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/12/angin.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">angin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika  Langit Cemburu Padamu</title>
		<link>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/12/09/ketika-langit-cemburu-padamu/</link>
		<comments>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/12/09/ketika-langit-cemburu-padamu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2011 04:10:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Syahri Ramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuflp.wordpress.com/?p=1009</guid>
		<description><![CDATA[Tak ubahnya puisi, yang keindahannya tersembunyi dalam bait. kau terjaga dalam indahnya pilihan kata. Terjalin anggun dalam guratan makna. Itulah pesona tentang dirimu yang pantas disematkan. Bukan kiasan yang terlontar begitu saja. Kau pantas menerimanya, karena kesungguhan dirimu menjaga diri dan sebongkah hati. Ya. Ada pesona yang tersembunyi dalam teduhnya wajahmu. Pesona yang terpancar karena <a href="http://ibnuflp.wordpress.com/2011/12/09/ketika-langit-cemburu-padamu/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=1009&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak ubahnya  puisi, yang keindahannya tersembunyi dalam bait. kau terjaga dalam indahnya pilihan kata. Terjalin <a href="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/12/langit1.jpg"><img src="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/12/langit1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="langit" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-1011" /></a>anggun dalam guratan makna. Itulah pesona tentang dirimu yang pantas disematkan. Bukan kiasan yang terlontar begitu saja. Kau pantas menerimanya, karena kesungguhan dirimu menjaga diri dan sebongkah hati.  </p>
<p>Ya. Ada pesona yang tersembunyi dalam teduhnya wajahmu. Pesona yang terpancar karena teguhnya dirimu menjaga kesucian cinta Tuhan. Kau merawatnya baik-baik. Meski terkadang kau harus rela menanggung beban, sesekali menitikkan air mata untuk meredam ketakutan. Tapi kau merahasiakan segala luka. Sebab bagimu, mengutuhkan cinta Tuhan itu adalah harta yang tak ternilai. </p>
<p><span id="more-1009"></span><br />
Tak mudah memang menempuh jalan hidup yang demikian. Merawat cinta Tuhan di tengah terjalnya kehidupan.  Apalagi dunia tak hentinya  menggoda. Ia datang untuk menawarkan segala pesonanya, mengiming-imingi keindahan semu. Begitulah, ada saja godaanya yang bila tak awas bisa melunturkan cinta Suci itu. </p>
<p>Maka, kau terus berupaya untuk tak dianggap lemah terhadap dunia ini. Sehingga air matamu hanya pantas kau tumpahkan karena Tuhan semata. Terlalu mahal bila harus menggadaikan butiran bening itu untuk dunia yang tak seberapa ini, itulah sangkamu.</p>
<p>Hingga sekali waktu Tuhan kembali menguji. Untuk mengetahui, apakah cintaNya yang telah bersemayam lama dalam jiwamu masih ranum adanya. Ternyata, kau tak awas memahami cobaan itu. Kau terjebak pada perasaan yang terbit belum saatnya. Kau kira itu adalah perasaan yang memang pantas. Sekedar fitrah manusia dalam kehidupan. </p>
<p>Sehingga untuk kali pertamanya air matamu tumpah karena dunia. Langit pun cemburu. Cinta suci yang telah lama kau rawat, perlahan luntur. Tergadaikan sebongkah cinta semu pada makhluknya. Kini, kau pun kehilangan arah. Meraba jejak yang mulai hilang.</p>
<p>Sekarang apalagi yang melemahkanmu? Mengapa kau biarkan terus dirimu meneguk keliru.  Tak kah kau lihat betapa banyak rasa yang terkuras, waktu yang tak tersita. Sementara yang kau dapat hanya keletihan yang tak berujung. Sadarkah dirimu, bahwa kau diam-diam terus dicemburui langit. Karena tak kunjung kembali ke jalan cintaNya.</p>
<p>Sesungguhnya ujian itu datang bukan untuk melemahkanmu. Kau memang harus melewati masa-masa itu. Agar terang padamu cinta siapa yang paling indah. Apakah cinta Tuhan yang tak terbatas, atau cinta makhlukNya yang lebih sering mengundang cemas.</p>
<p>Bersabarlah, untuk segala keuputusan hidup yang belum saatnya itu. Tuhan tidak diam. RencanaNya selalu lebih manis dari yang kau kira. Jangan lagi salah melangkah. Sebab langit selalu cemburu, bila ada hamba yang menggadai terlalu murah cintaNya. </p>
<p>Meunasah Baet, 09 Desember 2011<br />
Pukul 09;17 WIB </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuflp.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuflp.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuflp.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuflp.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuflp.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuflp.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuflp.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuflp.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuflp.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuflp.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuflp.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuflp.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuflp.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuflp.wordpress.com/1009/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=1009&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/12/09/ketika-langit-cemburu-padamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb676e59aad2716f8cb2fe3ec13d58cf?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnusr</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/12/langit1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">langit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pesona Melayu di mesjid Al Azizi</title>
		<link>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/19/pesona-melayu-di-mesjid-al-azizi/</link>
		<comments>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/19/pesona-melayu-di-mesjid-al-azizi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Nov 2011 03:37:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Syahri Ramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[reportase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuflp.wordpress.com/?p=1001</guid>
		<description><![CDATA[Cahaya matahari pecah di kubah mesjid Al Azizi, Tanjung Pura. Warna bangunannya yang kuning keemasan menjadi kian merona. Siang itu matahari memang sedang teriknya. Setelah menempuh 2 jam perjalanan dari Medan saya turun dari Jumbo (nama angkutan Medan &#8211; Aceh), seketika itu pula saya disergap kekaguman yang tak terkira. Di hadapan saya mesjid Al Azizi <a href="http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/19/pesona-melayu-di-mesjid-al-azizi/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=1001&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cahaya matahari pecah di kubah mesjid Al Azizi, Tanjung Pura. Warna bangunannya yang kuning keemasan  menjadi kian <a href="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/11/aa-al-zizi.jpg"><img src="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/11/aa-al-zizi.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="aa. al zizi" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-1002" /></a>merona. Siang itu matahari memang sedang teriknya. Setelah menempuh 2 jam perjalanan dari Medan saya turun dari Jumbo (nama angkutan Medan &#8211; Aceh),  seketika  itu pula saya disergap kekaguman yang tak terkira. Di hadapan saya mesjid  Al Azizi berdiri dengan megahnya. Pagarnya yang luas seolah hendak memeluk siapa pun. Tunai juga mimpi itu, saya bergumam. Lalu meraih sebuah notes kecil, melingkari resolusi no 18 dalam hidup saya.<br />
<span id="more-1001"></span><br />
Ya, mengunjungi mesjid Al Azizi adalah mimpi saya yang telah bersemayam cukup lama. Pertama kali saya melihat mesjid ini di sebuah almanak, tak ingat lagi tahun berapa. Entah bagaimana pula mesjid ini bagi saya sangat menarik, kesan melayunya begitu kuat. Bahkan setiap kali melewati sumatra utara, dan melintasi Tanjung Pura,  saya sangat emosional untuk bisa mengunjungi mesjid ini. Bersama Surya, sahabat SMA saya. kami pun sepakat untuk melihat lebih dekat pesona apa yang tersimpan di Mesjid kebanggan masayrakat Tanjung Pura ini.</p>
<p>Mesjid nan megah ini dibangun pada tahun 1897-1927 silam, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah. Pembangunan mesjid ini berlangsung selama 18 bulan, dengan biaya tak kurang 200 ribu ringgit dihabiskan untuk membangunnya. Lalu tepat 12 Rabiulawal 1320 Hijriah atau 13 Juni 1902, mesjid ini pun diresmikan.<br />
Kemegahan mesjid Al Azizi ini sudah terkenal sampai ke mancanegara. Wisatawan Malaysia, Singapura dan Brunai Darussalam kerap datang kemari. Konon, di Malaysia tepatnya di Keddah ada mesjid yang serupa dengan mesjid Al Azizi ini, namanya yaitu mesjid Zahir. </p>
<p>Halaman mesjid ini begitu luas, di hadapannya rumput hijau juga terawat dengan rapi. Sehingga ketika berjalan kaki memasuki kompleks mesjid ini, kita terlebih dahulu disajikan pesona tekstur bangunannya yang megah. Bangunan utama mesjid Al Azizi ini bercorak Timur Tengah dan India, dengan lebih dari sembilan kubah. Bangunannya kuat karena tiang-tiang masjid terbuat dari logam. Kesan pertama yang saya tangkap, mesjid ini menyajikan 2 pesona sekaligus. Pesona kejayaan melayu tempo dulu, dan modrenitas yang bernuansa klasik. Maka, wajar saja siapa pun yang pertama kali melihatnya akan disergap rasa kagum, saya saja sampai lama mematung, menikmati pesonanya. </p>
<p>Memasuki interiornya hawa sejuk langsung menghampiri. Lantainya terbuat dari marmer dengan bidangnya yang besar. Dua buah pintunya berbahan kayu, ukuranya kecil namun memanjang ke atas. Sebuah ukiran kaligarafi melekat di atas kusen pintunya. Warna kuning keemasan tetap menjadi warna dasar dinding mesjid ini, dan garis-garis hijau disetiap sisi pintu maupun kusen semakin menambah kuat kesan melayunya. Eksotis sekali.</p>
<p>Ruangan dalam mesjid ini ternyata tidak terlalu luas, belum lagi sebuah mimbar yang berdiri di tengahnya membuat mesjid terkesan sempit. Karenanya, setelah berwudhu saya sengaja shalat di dua shaf terdepan yang terasa lebih lapang. Dan, saya pun larut beberapa saat.</p>
<p>Seusai shalat saya keluar melihat sekiling mesjid ini. Ada banyak makam di sisi kanannya. Di kompleks pemakaman itu pula, terdapat empat makam pahlawan Langkat yang masih berdarah Sultan. Di antaranya, T Abdurrahman (wafat 1909), T Soelaiman bin Tengku Syahruddin bin Tengku Al Haj Aminulah, yang dibunuh saat huru-hara 1946 dan di sampingnya ada T Rusian bin T Ahmad Alfatiha. Lalu, seorang lagi adalah pahlawan yang namanya cukup panjang, yaitu  T Harun Azis Bin Sultan Abdul Aziz Abdul Djalil Rachmad Shah, yang wafat saat revolusi tahun 1946.  </p>
<p>Selain itu di pemakaman ini pula, ada juga makam seorang sastrawan masa Pujangga Baru yang cukup terkenal yaitu  Tengku Amir Hamzah. Beliau adalah sang Raja Penyair Pujangga Baru, yang meninggal dalam peristiwa kerusuhan sosial 1946 di Langkat.</p>
<p>Siang itu matahari memang sedang teriknya, setelah puas berkeliling dan melakukan ritual penting yang kerap dilakukan wisatawan yaitu sesi dokumentasi. Saya pun menikmati sebuah air kelapa muda di depan Mesjid Al Azizi ini. Dengan perasan jeruk nipis Taiwan dan siraman air gula merah pada air kelapa, membuat siang itu benar-benar menjadi hari yang paling berkesan dalam hidup saya. Ah, Tanjung Pura. </p>
<p>Kampung Durian, 14 November 2011<br />
Pukul : 10;20 WIB.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuflp.wordpress.com/1001/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuflp.wordpress.com/1001/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuflp.wordpress.com/1001/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuflp.wordpress.com/1001/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuflp.wordpress.com/1001/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuflp.wordpress.com/1001/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuflp.wordpress.com/1001/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuflp.wordpress.com/1001/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuflp.wordpress.com/1001/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuflp.wordpress.com/1001/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuflp.wordpress.com/1001/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuflp.wordpress.com/1001/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuflp.wordpress.com/1001/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuflp.wordpress.com/1001/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=1001&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/19/pesona-melayu-di-mesjid-al-azizi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb676e59aad2716f8cb2fe3ec13d58cf?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnusr</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/11/aa-al-zizi.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">aa. al zizi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencemburui Kupu-Kupu</title>
		<link>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/10/mencemburui-kupu-kupu/</link>
		<comments>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/10/mencemburui-kupu-kupu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 17:15:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Syahri Ramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuflp.wordpress.com/?p=996</guid>
		<description><![CDATA[Sekuntum kenanga terayun-ayun basah Jutaan tasbih di langit baru saja usai basahi bumi Dengan kepaknya yang lembut kupu-kupu datang coba merayu * Tapi kenanga tengah sibuk meneguhkan tangkainya Sebab kuntum masih terbungkus bulir-bulir rinai Bukan masa yang tepat menyambut jamuan Kupu-kupu pun berlalu pasrah * Kau termangu di bibir jendela rumahmu Menatap ikhtiar cinta yang <a href="http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/10/mencemburui-kupu-kupu/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=996&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekuntum kenanga terayun-ayun basah<a href="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/11/kupu.jpg"><img src="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/11/kupu.jpg?w=500" alt="" title="kupu"   class="alignright size-full wp-image-998" /></a><br />
Jutaan tasbih di langit baru saja usai basahi bumi<br />
Dengan kepaknya yang lembut<br />
kupu-kupu datang coba merayu<br />
*<br />
Tapi kenanga tengah sibuk meneguhkan tangkainya<br />
Sebab kuntum masih terbungkus bulir-bulir rinai<br />
Bukan masa yang tepat menyambut jamuan<br />
Kupu-kupu pun berlalu pasrah<br />
<span id="more-996"></span></p>
<p>*<br />
Kau termangu di bibir jendela rumahmu<br />
Menatap ikhtiar cinta yang demikian indah<br />
Ada harap kupu-kupu kembali bertandang<br />
Bila saja kenanga usai meneguhkan tangkainya</p>
<p>*<br />
Setelah Langit kembali merona<br />
Dan sebaris pelangi melengkung indah<br />
kau pun disergap gusar<br />
Mengapa Kupu-kupu tak kunjung datang?<br />
Padahal kenanga telah menebar semerbak<br />
Siap menyambut jamuan yang tertunda<br />
*<br />
Hingga akhirnya gusarmu perlahan terkikis<br />
Cemburu itu memang ada<br />
Dalam setiap riwayat cinta</p>
<p>Kampung Durian, 10 November 2011<br />
Pukul 22;40 WIB<br />
*Dalam syimpony Kenny G,  In The Rain <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuflp.wordpress.com/996/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuflp.wordpress.com/996/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuflp.wordpress.com/996/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuflp.wordpress.com/996/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuflp.wordpress.com/996/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuflp.wordpress.com/996/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuflp.wordpress.com/996/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuflp.wordpress.com/996/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuflp.wordpress.com/996/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuflp.wordpress.com/996/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuflp.wordpress.com/996/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuflp.wordpress.com/996/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuflp.wordpress.com/996/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuflp.wordpress.com/996/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=996&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/10/mencemburui-kupu-kupu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb676e59aad2716f8cb2fe3ec13d58cf?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnusr</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/11/kupu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kupu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menceraikan Kemalasan</title>
		<link>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/09/menceraikan-kemalasan/</link>
		<comments>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/09/menceraikan-kemalasan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 05:16:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Syahri Ramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuflp.wordpress.com/?p=982</guid>
		<description><![CDATA[Rumitnya malas itu tak berwujud. Ia datang bak cendawan di musim hujan, diam-diam lalu merajai. Bagi pribadi yang lalai, kehadiran malas memang sangat nikmat. Memanjakan sekaligus memberikan janji indah bahwa masalah akan tuntas pada waktunya. Siapa yang tak tergoda dengan janji demikian. Masalah bisa tuntas tanpa kerja keras. Hanya saja bila kita mau jeli untuk <a href="http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/09/menceraikan-kemalasan/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=982&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rumitnya malas itu tak berwujud. Ia datang bak cendawan di musim hujan, diam-diam lalu merajai. Bagi pribadi yang <a href="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/11/pohon.jpg"><img src="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/11/pohon.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="pohon" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-983" /></a>lalai, kehadiran malas memang sangat nikmat. Memanjakan sekaligus memberikan janji indah bahwa masalah akan tuntas pada waktunya. </p>
<p>Siapa yang tak tergoda dengan janji demikian. Masalah bisa tuntas tanpa kerja keras. Hanya saja bila kita mau jeli untuk mencermati kemalasan ini, kita akan sadar bahwa malas adalah jebakan perasaan yang tersembunyi.<br />
<span id="more-982"></span><br />
Begitulah, malas adalah musuh yang datang dengan wajah yang  ramah. Karena itu tadi, malas adalah jebakan perasaan. Ia seolah mengajak kita berpikir optimis tapi mengabaikan makna ikhtiar. Melapangkan perasaan dari kegalauan-kegalauan, tapi mendiamkan diri dalam kesulitan. Singkatnya, malas mengajak kita memanjangkan harapan, tapi justru pada waktu yang bersamaan mengurung niat untuk memperpendek ikhtiar. </p>
<p>Jebakan perasaan ini akan semakin berbahaya bila kita tak segera sadar. Rencana-rencana yang telah ditekadkan tak akan pernah tunai, bila malas masih merajai. Biasanya rasa malas hadir saat kita mengalami kebuntuan. Ketika masalah rasanya tak mungkin untuk dilewati. Saat itulah rasa malas hadir untuk menawarkan ketenangan, “semua baik-baik saja” begitulah bisikannya. </p>
<p>Tak ada yang salah memang dengan bisikan ini. Bahayanya baru akan timbul bila diri ini salah menyikapi bisikan itu.  Karenanya, kita harus jeli terhadap segala perasaan yang menghampiri. Seperti malas, mulanya ia datang dengan wajah yang ramah. Selanjutnya, rasa malas mengajak kita untuk meninggalkan masalah tanpa terlebih dahulu menyelesaikannya.<br />
Penyebab lainnya, rasa malas hadir karena kita memberikan jeda yang panjang terhadap rangkaian ikhtiar kita. Malas menyelinap di antara jeda itu. Kita pun mengaminkan kehadirannya sebagai suatu keniscayaan, lalu terus menikmati. Sampai akhirnya, diri ini lupa bahwa ada kerja-kerja besar yang belum tuntas.</p>
<p>Ya, malas memang terasa nikmat. Itulah godaan terberatnya. Oleh karenanya, sebelum malas kian merajai kita harus segera bergeliat menceraikannya. Apapun alasannya, meninggalkan kemalasan dengan segera adalah pilihan bijak. </p>
<p>Mari, hitung kembali betapa banyak sudah waktu kita yang tergerus kemalasan. Kesempatan yang hilang akibat malas menjadi raja. Dan kini, tak ada pilihan lagi. Waktu kita kian menipis, sementara amanah masih terlalu banyak. Karenanya, sekali lagi katakanlah dengan tegas dalam diri.</p>
<p>“Malas, kita cerai”</p>
<p><em>(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706).</em></p>
<p>Kampung durian, 09 November 2011<br />
Pukul; 11;28 WIB</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuflp.wordpress.com/982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuflp.wordpress.com/982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuflp.wordpress.com/982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuflp.wordpress.com/982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuflp.wordpress.com/982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuflp.wordpress.com/982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuflp.wordpress.com/982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuflp.wordpress.com/982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuflp.wordpress.com/982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuflp.wordpress.com/982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuflp.wordpress.com/982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuflp.wordpress.com/982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuflp.wordpress.com/982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuflp.wordpress.com/982/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=982&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/09/menceraikan-kemalasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb676e59aad2716f8cb2fe3ec13d58cf?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnusr</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/11/pohon.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">pohon</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jalan Cinta yang Semestinya Kau Ada</title>
		<link>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/08/972/</link>
		<comments>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/08/972/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Nov 2011 16:21:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Syahri Ramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuflp.wordpress.com/?p=972</guid>
		<description><![CDATA[Tidak ada yang asing di sini. Karena Kita datang dengan wajah yang sama. Mencerahkan dunia dengan cinta. Pun aku datang lebih awal, mungkin itu sudah takdirku untuk menyambutmu. Selanjutnya, kita bersama-sama saling menguatkan. Di jalan yang sama, jalan cinta bertabur kebajikan. Lihatlah, bagaimana jalan kabajikan ini terhampar. Dan kau tak perlu terkejut, sebab memang demikianlah <a href="http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/08/972/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=972&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak ada yang asing di sini. Karena Kita datang dengan wajah yang sama. Mencerahkan dunia dengan cinta. Pun aku <a href="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/11/jalan1.jpg"><img src="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/11/jalan1.jpg?w=500" alt="" title="jalan"   class="alignright size-full wp-image-979" /></a>datang lebih awal, mungkin itu sudah takdirku untuk menyambutmu. Selanjutnya, kita bersama-sama saling menguatkan. Di jalan yang  sama, jalan cinta bertabur kebajikan.</p>
<p> <span id="more-972"></span><br />
Lihatlah, bagaimana jalan kabajikan ini terhampar. Dan kau tak perlu terkejut, sebab memang demikianlah adanya. Bahwa tak banyak yang mau berletih-letih di sini. Menggadaikan potongan  waktunya untuk memberi arti. Menguras pikirannya biar jalan ini tak redup cahayanya. Dan meredam perasaannya agar  jalan cinta ini tak ternoda.</p>
<p>Di sini memang tak banyak yang kita dapat. Apalagi terjalnya sudah terang kau lihat. Namun, cobalah sejenak kau perhatikan likunya. Tahukah dirimu, bahwa ujung dari liku ini adalah kabajikan yang tak ternilai. Meski demikian, yang mampu melewatinya tak sembarang orang. Hanya pribadi terpilih saja yaitu mereka yang berjiwa besar, yang tekadnya sekeras karang, dan hatinya sebening embun. Lantas, bukankah yang demikian itu adalah ciri pribadi yang dirindukan langit.<br />
 Sementara  mereka yang hanya berdiri menyaksikan. Lalu berpaling karena menganggap ini kesia-siaan. Sungguh, dunia hanya merekam jejak mereka karena hanya pernah mengisi ruang dan waktu saja. Selanjutnya mereka akan lenyap tergerus waktu. Karena tak ada satu pun riwayat hidupnya yang memang patut untuk dikenang.</p>
<p> Inilah jawaban mengapa aku menginginkan dirimu berada di sini. Bersama-samaku. Agar segala pesona ini tak kunikmati sendiri. Agar kita bersama-sama menjadi pribadi yang dirindukan langit. Tak apa. Biarlah kita menangis dalam luka, meringgis dalam kepedihan. Bukankah itu jauh lebih baik, daripada kita melewati hari dengan jalan cerita yang tak menentu. Asalkan semua itu mampu mengantarkan kita pada ujung kehidupan yang tak semu.</p>
<p> Bila dirimu masih bertnya tentang pahit getirnya jalan ini, aku tak akan menjawabnya lagi. Sebab, memang begitulah sudah alur cerita di jalan cinta ini. Perlu berletih-letih dulu, harus banyak yang dikorbankan. Karena memang demikianlah yang namanya fitrah perjuangan.</p>
<p> Inilah persembahan cintaku untukmu. Selebihnya aku tidak bisa memaksa. Bila segala pesona itu tak juga membuat dirimu tergoda . Tapi ketahuilah, bahwa bagaimana pun juga, di sini, meskipun tertatih-tatih aku akan terus menghimpun harap. Bahwa di jalan cinta ini kau semestinya ada.</p>
<p> Meunasah Baet, 03 November 2011<br />
Pukul: 07;42 WIB</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuflp.wordpress.com/972/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuflp.wordpress.com/972/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuflp.wordpress.com/972/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuflp.wordpress.com/972/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuflp.wordpress.com/972/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuflp.wordpress.com/972/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuflp.wordpress.com/972/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuflp.wordpress.com/972/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuflp.wordpress.com/972/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuflp.wordpress.com/972/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuflp.wordpress.com/972/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuflp.wordpress.com/972/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuflp.wordpress.com/972/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuflp.wordpress.com/972/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=972&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/08/972/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb676e59aad2716f8cb2fe3ec13d58cf?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnusr</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/11/jalan1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jalan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat Terkahir Yusuf</title>
		<link>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/02/surat-terkahir-yusuf/</link>
		<comments>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/02/surat-terkahir-yusuf/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 15:19:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Syahri Ramadhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuflp.wordpress.com/?p=967</guid>
		<description><![CDATA[Tak pernah-pernah rumahku kedatangan tukang pos. Sore ini saat aku dan ayah sedang duduk di serambi rumah, seorang lelaki berseragam coklat mengejutkan kami. Tampilannya rapi. Ia datang dengan menggunakan sepeda motor berwarna orange. Ada dua buah kantong besar bergantung di jok sepeda motornya. Ia menghampiri kami, dan dengan santunnya sepucuk surat ia berikan kepada ayah. <a href="http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/02/surat-terkahir-yusuf/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=967&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak pernah-pernah rumahku kedatangan tukang pos. Sore ini saat aku dan ayah sedang duduk di serambi rumah, seorang <a href="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/11/bergegas-pulang-oldig4.jpg"><img src="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/11/bergegas-pulang-oldig4.jpg?w=500" alt="" title="Bergegas-Pulang-Oldig"   class="alignright size-full wp-image-975" /></a>lelaki berseragam coklat mengejutkan kami. Tampilannya rapi. Ia datang dengan menggunakan sepeda motor berwarna orange. Ada dua buah kantong besar bergantung di jok sepeda motornya. Ia menghampiri kami, dan dengan santunnya sepucuk surat ia berikan kepada ayah.<br />
 “maaf pak, terima kasih. Saya harus buru-buru” ucapnya dengan senyum. Ketika ayah memintanya untuk masuk dulu ke rumah.<br />
Lalu ia menyodorkan tanda terima kepada ayah. Tiba-tiba tersirat raut muka yang lain dari wajah ayah. Ah, aku paham. Ayah tak bisa menulis. Seketika kuraih buku tanda terima itu dari tangan ayah. aku pun membubuhkan tanda tanganku di bukunya.<br />
“Terima kasih” ucapnya,  dengan sopan lelaki berseragam itu pun mohon pamit.<br />
Hatiku berdebar karena ternyata surat itu datang dari negeri nun jauh di sana, Belanda. <span id="more-967"></span>Ya, ini adalah surat dari abangku, Yusuf. Ini juga merupakan surat pertamanya setelah 1 bulan yang lalu abangku berangkat ke Belanda.<br />
Setelah menahun bekerja di sebuah perusahaan konstruksi swasta yang beskala internasional. Abangku mendapat promosi jabatan, ia pun dipindah tugaskan ke negeri kincir angin sana. Bang Yusuf memang tergolong cerdas. Saat sekolah saja banyak ia mendapat juara. Berbaris-baris pialanya di lemari rumahku. Ah, betapa bangganya ayah ketika pertama kalinya mendengar  kabar kalau bang Yusuf akan bekerja ke Eropa. Meski kata “Eropa” benar-benar asing di telinganya.<br />
“Kau Ujang, kalau sudah besar nanti, macam abangmu ini ya” ucap ayah sambil menepuk-nepuk pundakku.<br />
Ayah memang pantas bangga. Meskipun kami bukan  dari keluarga yang berada, dan ayah tak pernah mengecap  manisnya pendidikan, sama seperti ayah lainnya di kampung ini. Tapi, ayah telah berhasil membuktikan dirinya  sebagai ayah yang sesungguhnya. Ayah yang mampu memenuhi segala hak anak-anaknya. Bukan hanya makan dan kasih sayang. Tapi, sebuah hak yang bagi orang kampung ini adalah suatu yang tak begitu penting, tak ada nilainya, memenuhinya adalah  suatu kesia-siaan. Hak yang terlupakan itu adalah pendidikan.<br />
“Aduh.. Pak Harun. Untuk apa orang kampung macam kita ini sekolah tinggi-tinggi” begitulah suara-suara miring yang kerap mengusik batin ayah.<br />
Tapi lihatlah sekarang. Tak seorang pun berani mencibir ayah lagi. Bungkamlah mulut-mulut orang kampung itu. Apalagi setelah  mereka tahu  kalau ayah tak perlu bekerja. Karena tiap bulan bang Yusuf selalu mengirimkan uang untuk kami.<br />
Melihat kesungguhan ayah itu, aku pun kian semangat belajar.  Aku cemburu pada bang Yusuf yang bisa ke luar negeri, selalu di puji-puji ayah saat kami duduk di meja makan. ayah juga sering membanding-bandingkan kami, jika aku mulai malas belajar. ah, aku benar-benar cemburu.<br />
Ayah mengernyitkan keningnya. Menatap lekat-lekat amplop putih bergaris-garis merah yang kini telah berada di tanganku. Lalu, dipandangnya wajahku penuh harap. Sorot matanya menyiratkan kalau ayah tak sabar ingin segera mengetahui prihal isi surat itu.<br />
“Dari bang Yusuf, ayah…” ucapku.<br />
“Oh ya. Apa isinya” senyum ayah mengembang.  Aku menggeleng. Tanganku membuka surat itu dengan hati-hati<br />
“ Ibu…ibu, kemarilah sebentar ada surat dari Yusuf ini” teriak ayah.<br />
Dari dalam rumah terdengar  derap langkah ibu yang berlari kecil menuju serambi rumah. Tampak tangan ibu masih basah. Ia meninggalkan cuciannya.  Lalu ayah dan ibu merapatkan kursinya ke dekatku. Nafas mereka memburu. Aku tersenyum melihat sikap kedua orang tuaku ini. Setelah menatap wajah mereka, kutarik nafasku dalam-dalam.<br />
Assalamu ‘alaikum…<br />
Menemui keluarga tercintaku di kampung.<br />
Ayah, ibu dan Ujang apa kabar semuanya? Semoga Allah selalu menjaga keluarga di sini dalam RahmatNya. Melalui surat ini Yusuf ingin mengabarkan bahwa Alhamdulillah Yusuf sudah tiba di Belanda dengan selamat. Tak kurang satu apapun.<br />
Yusuf tinggal di sebuah apartemen tak jauh dari kantor. Oya, orang-orang di sini gemar naik sepeda. Kalau melihat mereka lalu-lalang Yusuf tiba-tiba teringat kampung kita. Ah, betapa menyenangkannya naik sepeda di kampung dulu. Apalagi kalau  teringat saat Yusuf menyusuri jalan-jalan sawah bersama Rifai, dan Rizal untuk pergi mengaji ke surau.  Sungguh menyenangkan.<br />
Oya, Ujang apa kabarmu? Bagaimana sekolahnya. Pesan abang rajin-rajinlah kau belajar ya. Abang juga memohon kepadamu untuk menjaga ayah dan ibu baik-baik. Jangan suka membuat mereka susah. Menurutlah apa kata mereka. Mantapkan juga bahasa inggrismu biar bisa ke luar negeri seperti abangmu ini.hehe&#8230;<br />
Kepada ayah dan ibu, insya Allah mulai bulan depan Yusuf akan rutin mengirim uang. Jadi ayah dan ibu tak usah menyadap getah karet lagi. Sudah terlalu banyak pengerbanan yang ayah dan ibu berikan, meskipun tak mungkin berbalas tapi biarlah Yusuf saja yang bekerja. Untuk sekolah Ujang pun  biar Yusuf saja yang menanggung biayanya. Tak usah ayah  dan ibu risaukan.<br />
Yusuf juga ingin menyampaikan kalau keluarga di sini tak perlu cemas. Insya Allah Yusuf selalu menjaga shalat, seperti pesan ayah. Yang Yusuf minta dari keluarga ini hanya satu yaitu mohon untuk selalu mendoakan Yusuf di sini, agar tetap  selalu dalam lindungan Allah.<br />
Ayah, ibu dan Ujang demikian dulu ya surat dari Yusuf. Sekali lagi mohon untuk terus selalu mendoakan Yusuf di negeri orang ini. Demkian juga Yusuf tak hentinya mendoakan untuk keluarga di sini. Semoga Allah mempertemukan kita kembali. Amin.<br />
								Dari ananda Yusuf Adnan<br />
Setelah usai membacanya. kami terkurung dalam diam. Tak sepatah kata pun terucap. Ibu mengambil surat itu dari tanganku, dipandangnya  dengan mata yang bekaca-kaca. Ibu tak kuasa, ia dekapkan surat tersebut ke dadanya. Tubuhnya bergemuruh. Tumpahlah air mata dari perempuan  yang paling kucintai ini. Sedangkan ayah memalingkan wajahnya. Mata ayah menerawang jauh. Entah apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran lelaki pendiam ini.<br />
Aku mulai belajar memahami setiap keputusan ayah. Mencerna setiap patah katanya. Ya, bila  sekiranya dulu ayah menuruti apa ucap orang kampung. Kalau menyekolahkan anak itu sama dengan meracuni hidup. Tak sampailah bang Yusuf ke Eropa sana, dan mungkin hingga senja ini bang Yusuf masih berpeluh-peluh membuat bata. Bersama pemuda kampung lainnya. Aku melipat surat itu dan memasukkannya kembali ke dalam amplop. Sebuah tekad tertanam lekat dalam diriku, bahwa akan kurawat baik-baik setiap petuah ke dua orang tuaku ini.<br />
Semenjak hari itu, setiap bulan bang Yusuf mulai rutin mengirimkan uang untuk kami. Ayah pun tak perlu lagi menyadap getah karet seperti biasanya. Uang yang diberikan bang Yusuf memang lebih dari cukup. Sebagian ayah gunakan untuk membeli kambing. Sebagian ia tabung, untuk pergi haji, ungkapnya. Ayah juga membelikan ibu mesin jahit, karena ia ingat dulu betapa Ikhlasnya ibu menjual mesin jahitnya agar bang Yusuf tetap bisa sekolah.<br />
“buatkan baju yang bagus untuk kami” ucap ayah dengan senyum. Sumringahlah wajah ibu mendapatkan pemberian yang tak disangka-sangka oleh ayah tersebut.<br />
***<br />
Bak pucuk sirih yang merambat. Ternyata sudah hampir 6 tahun bang Yusuf di negeri Belanda. Selama itu pula ia rutin mengirimkan uang. Dan setiap menjelang ramadhan ada tradisi yang sangat aku, ayah dan ibu nanti-nanti yaitu menunggu hadirnya tukang Pos. Biasanya Tukang Pos akan datang saat hari menjelang siang. Dalam suratnya, bang Yusuf juga akan menyisipkan kartu ucapan selamat lebaran. Ya, seperti saat pertama kalinya tukang pos datang ke rumah. Kami selalu menyambutnya dengan semangat.<br />
Namun siang ini ada segunduk asa yang mengganjal batin ayah. Sebab, rasanya ada sesuatu yang asing pada diri ayah hari ini. Ia tampak begitu cemas. Ketika menyadari tukang pos datang pun, ayah bersikap biasa-biasa saja. Tak seperti biasanya yang penuh semangat. Sampai menyuruh tukang pos itu masuk dulu, meskipun berulang kali ia menolaknya.<br />
Entah apa yang terjadi raut wajah ayah menujukkan, bahwa ia tak mau mengetahui prihal isi surat bang Yusuf. Sedapat mungkin, ia berupaya menyembunyikan perasaannya itu.<br />
 “Sebentar Ujang…”  Ayah mencegahku. Kala aku hendak membaca surat yang baru di antar Pak Pos. Tangannya meraih surat itu dariku. Mungkin ayah ingin coba membaca surat itu sendiri, pikirku. Tapi, aku tahu ayah tak paham dengan sebaris kalimat yang tertulis di amplop itu. Ayah menghela nafas. Jemarinya hanya mengusap-usap barisan huruf yang terjalin di amplop.<br />
Sekian lama aku hidup bersama ayah. Sedikit tidaknya aku mengetahui banyak tentang sikap lelaki pendiam ini. Ya, lama-lama aku coba memahami apa yang sedang berkecamuk di pikirannya. Sepertinya ada kegalauan yang menyelimuti hati ayah.<br />
Aku ingat,  tempo hari ayah pernah berucap kalau ia ingin sekali lebaran ini kami semua bisa berkumpul. Menyantap gulai ayam di gubuk sawah belakang rumah kami. Berziarah ke makam kakek dan nenek. Ayah juga mengatakan betapa rindunya ia shalat berjamaah bersama lagi seperti dulu. Tepatnya, sebelum bang Yusuf pergi.<br />
Aku memahami semua itu sebagai suatu yang wajar. Tentang rindu yang tak tertangguhkan seorang ayah terhadap anaknya. Enam tahun  itu waktu yang cukup lama. Sebab, lihatlah usia ayah sekarang. Sudah berbilang masa. Sorot matanya mulai jenuh. Akhir-akhir ini ayah juga mulai sakit. Reumatiknya sering kambuh. Tak kuat lagi mengayuh sepeda menuju mesjid. Apalagi mengayuh jauh ke pasar, hanya sekedar ke tukang pangkas sekira rambutnya mulai panjang.<br />
 “Baiklah Ujang, bacalah surat itu” perintah ayah. Ia memberikan surat tersebut kembali padaku.<br />
Aku membacanya dengan penuh perasaan. Sesekali mataku mencuri pandang ke wajah ayah. Ia menyaksikan dengan tenang setiap kalimat yang kubaca. Pandanganya kosong ke depan. Setelah usai membacanya aku melipat surat itu dan memasukkannya kembali dalam amplop. Belum kutemukan maksud yang pasti tentang segala sikap ayah hari ini.<br />
Sampai akhirnya tubuhku bergetar. Karena hari ini untuk pertama kalinya dalam hidupku. Semenjak aku mengenal ayah sebagai lelaki yang tegar. Jauh sebelum aku mengenal baik setiap orang. Aku menyaksikan dengan terangnya,  ada bulir-bulir bening mengalir lembut di pipi ayah. Setelah ia mengucap sebaris kalimat, yang pada detik itu pula meluruhkan semangatku.</p>
<p>“Mungkin benar Ujang” suara ayah tertahan.<br />
“ Orang kampung macam kita ini, tak perlu sekolah tinggi-tinggi”.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuflp.wordpress.com/967/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuflp.wordpress.com/967/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuflp.wordpress.com/967/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuflp.wordpress.com/967/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuflp.wordpress.com/967/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuflp.wordpress.com/967/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuflp.wordpress.com/967/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuflp.wordpress.com/967/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuflp.wordpress.com/967/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuflp.wordpress.com/967/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuflp.wordpress.com/967/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuflp.wordpress.com/967/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuflp.wordpress.com/967/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuflp.wordpress.com/967/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuflp.wordpress.com&amp;blog=11546866&amp;post=967&amp;subd=ibnuflp&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuflp.wordpress.com/2011/11/02/surat-terkahir-yusuf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb676e59aad2716f8cb2fe3ec13d58cf?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnusr</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ibnuflp.files.wordpress.com/2011/11/bergegas-pulang-oldig4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Bergegas-Pulang-Oldig</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
