Laporan langsung dari Teleju (kawasan prostitusi terbesar di Riau)

Asap rokok mengepul dari mulutnya, tangan kirinya asik dengan HP Samsung berwarna  putih. Sesekali Ia tertawa terbahak – bahak. Lalu, saat Aku datang mengahmpirinya. Ia terdiam  dipandanginya aku dengan sinis, wajahnya tak peduli. kemudian ia tertawa kembali.  Lama aku mematung, hingga akhirnya seorang wanita paruh baya datang, mengenakan baju merah, celananya hanya sebatas lutut, umurnya sekitar 35 tahun.

“ada apa ya” tanyanya.

“saya mahasiswa mbak, mau menulis tentang masyarakat Teleju ini” jelasku.

Kedua Wanita itu saling berpandangan, perempuan yang merokok tadi kembali mengepulkan asap rokoknya, wajahnya masih dingin.

“Mau nulis tentang apa, tulisan tentang ranjang atau apa” ujarnya.

Aku hanya tersenyum, meski batinku bergemuruh. Para PSK di Teleju ini memang sangat tertutup, mereka tidak mau berbicara dengan orang luar kalau bukan urusan “kesek – kesek”. Apalagi memberikan informasi tentang identitas dirinya, wanita paruh baya tadi yang sebut saja namanya Bety menjelaskan, bahwa para PSK di Teleju ini hanya mau melayani obrolan para tamu saja, obrolan itupun ada syaratnya. Bila tak ada kesepakatan, maka para tamu itu terpaksa diusir pergi.

Data BPS Pekanbaru menunjukkan bahwa di kawasan lokalisasi Teleju terdapat dua blok sensus yang terdiri dari RW 16 dan RW 17. Salah satu blok terdapat sekitar 120 penduduk. Bukan rahasia umum lagi kalau Teleju telah menjadi pusat prostitusi terbesar di Riau, daerah dengan luas 10,8 hektare ini menjadi destinasi favorit para lelaki hidung belang. Menariknya, para “tamu” yang datang ke tempat ini bukan hanya para lelaki dewasa yang telah berumur, tapi juga para pelajar bahkan Mahasiswa juga kerap mampir.

Bety, satu dari 300  PSK di Teleju lainnya. Mengaku telah cukup lama menggeluti dunia gelap ini. Seperti PSK lainnya, Bety juga berasal dari pulau jawa tepatnya Jawa Barat. Kedatangannya ke Teleju berawal dari ajakan orang kampungnya. Ia mengakui kalau saat diajak Ia sudah tahu apa pekerjaannya di sini, baginya bekerja sebagai PSK adalah pilihan yang sulit, tapi karena kondisi ekonomi yang terus melilit, Ia pun memutuskan untuk mau mengikuti ajakan orang kampungnya itu.

“habis, bagaimana lagi ini juga untuk keluarga” ujarnya.

Bety punya dua anak, satu orang perempuan yang tinggal di kampung bersama neneknya, usianya sudah 15 tahun, dan satunya lagi seorang laki – laki usianya baru 4 tahun, yang ikut bersamanya di Teleju. Sedangkan suaminya telah lama meninggal dunia, sehingga Ia harus berjuang mencukupi kebutuhan hidup dua orang anak dan ibunya.

Bety tak mau mengungkapkan secara pasti berapa pengahasilannya, ia hanya menyebutkan tarif untuk sekali melakukan “aksi”, untuk trip (short time) sebesar Rp. 100 ribu. Sedangkan menginap (long time) kisarannya bisa Rp. 300  –  400 ribu. Jumlah tamu yang datang juga tak menentu, menurutnya tamu akan banyak datang pada awal – awal bulan. Bety tak pernah tahu apa latar belakang tamu –  tamunya itu, baginya itu tidak penting.

“ah… itu bukan urusan kita, ngak penting itu” katanya.

Setiap bulannnya, Bety tak lupa mengirimkan uang ke kampung. Anaknya yang di kampung tak pernah tahu apa profesinya di sini. Maka, ia mengirimkan uang itu melalui neneknya. Dan selalu berpesan kepada neneknya agar jangan pernah menceritakan profesinya di sini.

Meski demkian, Bety tak bisa membohongi dirinya sendiri. Dalam hati kecilnya ada perasaan bersalah dengan mengirimkan uang haram itu untuk anaknya. Tapi, lagi – lagi perasaan itu ditepisnya karena menurutnya Ia melakukan semua ini juga demi keluarga.

“yah,, mesti bagaimana lagi” kilahnya.

Bety juga berusaha agar anak – anaknya tidak mengikuti jejak hitam ibunya ini, Ia berencana mensekolahkan anak – anaknya setinggi mungkin. Ia tak ingin anak – anaknya seperti dirinya, hanya tamatan  SMP.

Akhir oktober ini pemerintah daerah Riau telah memerintahkan untuk mengosongkan daerah Teleju ini, Pemda Riau berencana menjadikan wilayah ini sebagai kawasan pusat kajian islam.  Rencanaya, kawasan ini nantinya akan dijadikan Kampung Melayu modern.

Pembagian lahannya sudah direncanakan sedemikian rupa, pembagian lahan seluas 10,8 hektare tersebut yakni, 0,5 hektare untuk pasar tradisional bernuansa Melayu, lima hektare untuk pusat pendidikan, asrama dan kesenian, satu hektare untuk taman pancing dan kebun bunga, satu hektare untuk miniatur Kota Pekanbaru tempo dulu, satu hektare untuk lahan kebun sayur dan buah, satu hektare untuk sarana olahraga, satu hektare untuk sarana umum dan ruang terbuka hijau serta 0,25 hektare untuk lahan pemakaman.

Bety hanya bisa pasrah dengan rencana Pemda itu, Ia memang tidak banyak pilihan. Bila rencana Pemda itu benar, Bety telah memutuskan untuk pulang kampung, di sana Ia akan membuka usaha tempat permainan Biliyard, modalnya dari uang yang telah Ia kumpulkan.

Hujan perlahan – lahan turun, diiringi petir yang menggelegar. Mungkin ini pertanda kalau Tuhan melarangku untuk tidak berlama – lama di tempat hitam ini. Akupun pamit, asap rokok kembali mengepul dari teman wanitanya tadi, dari awal pertemuan tadi wajahnya masih tetap sama, dingin.

Riau, 29 Mei 2010

Pukul 15:31 WIB.



Iklan