Salah satu makanan khas Aceh adalah sie itek (nasi bebek). Di Banda Aceh saya punya beberapa tempat favorit untuk makan sie itek. Yang pertama di kawasan Ulee kareng, tepatnya di simpang tujuh. Namanya nasi bebek Mona, lokasinya di sekitar penjual rempah-rempah. yang khas di sini adalah daging bebeknya yang empuk, mungkin karena menggunakan bebek muda. Aroma karinya juga lumayan menggoda, bumbunya meresap hingga ke serat-serat daging bebek.

Dalam penyajiannya, daging bebek di potong ukuran sedang, lalu disajikan dengan kuahnya yang berwarna merah, dan ditambah lagi beberapa potongan kentang. Dari warnanya saja kita sudah bisa menebak kalau kuahnya cukup pedas.

Warung ini bukanya pagi sekali sekitar pukul setengah tujuh. Pada jam itu orang-orang sudah ramai yang antri. Nah, kalau kita datang pukul 8 lewat, jangan harap kita dapat daging bagian dadanya yang memang cukup digemari. Kalau pun beruntung mungkin yang tersisa hanyalah jeroan dan kuahnya saja. Tapi tak usah khawatir, kita masih bisa menikmati kuah bebek yang nikmat ini dengan telur mata sapi yang memang sengaja disediakan penjualnya. Harga satu porsinya Rp. 8000. Cincailah

Satu lagi di kawasan Lambaro. Sekitar 3 Km keluar kota Banda Aceh. Untuk kemari saya harus mengendarai sepeda motor pagi sekali. Pukul 6 pagi Banda Aceh masih gelap, dan udaranya cukup dingin. Saya tidak peduli. karena saya tidak ingin kecewa. Pernah sekali saya datang pukul 7 pagi. Penjualnya tidak mampu lagi melayani pembeli yang menyemut. Saya pun harus bersabar antri, sambil memegang piring yang saya cuci sendiri di belakang. Benar-benar butuh perjuangan.

Tapi, semuanya terbayar lunas saat sepotong daging bebek di telungkupkan oleh penjualnya ke piring nasi saya, setelah di siram dengan kuahnya yang kental. Saya pun melahapnya. Kalau daging empuk itu telah sampai di mulut. Benarlah, perjuangan tadi rasanya tidak berarti apa-apa.

Awal Februari silam saya menemukan tempat makan nasi bebek baru. Nah, kalau dua tempat sebelumnya buka pagi sekali. Di sini justru sebaliknya. Teman-teman saya menyebutnya nasi bebek kuntilanak. Sebab, nasi bebek ini bukanya pukul 7 malam dan tutup sampai pukul 4 pagi.

Lokasinya pun lumayan jauh dari pusat kota yaitu di Pekan Bilui. Setelah sampai di simpang Pekan Bilui kita akan masuk lagi ke perkampungan yang jaraknya sekitar 5 KM. lalu menelusuri sebuah gang kecil sekitar beberapa ratus meter dari badan pasar. Sepintas bagi yang baru pertama kali datang, tempatnya memang tampak begitu menyeramkan. Zzztt… dulunya ini kawasan basis GAM.

“Yah kita sudah sampai” kata Bang Rahmat yang pertama kali mengajak saya ke tempat itu. Saya melongo, karena tidak ada warung atau kedai layaknya tempat makan lain. Tempat yang dimaksud adalah sebuah rumah berdinding papan, rumah itu menyatu dengan sebuah rumah panggung yang berarsitektur khas tradisional Aceh. Setelah masuk ke dalam saya baru paham, kalau ternyata nasi bebek kuntilanak itu di jual di dalam rumah ini.

Interior rumahnya sederhana sekali, mencirikan suasana tempo dulu. Satu-satunya barang elektronik di rumah itu hanyalah sebuah kulkas satu pintu. Lalu di sudutnya ada sebuah dapur kecil yang di atasnya teronggok 2 buah kuali tanah. Tak jauh dari dapur itu, terkembanglah sebuah tikar pandan tempat pembeli menyantap sie itek. Sehingga pembeli langsung memesan nasi bebek dari dapur. Dengan duduknya lesehan, kita benar-benar serasa di rumah sendiri.

Untuk rasa, saya berani angkat dua jempol. Tekstur dagingnya menarik dan juga lumayan empuk. Kuahnya lumayan kental, saya mengira kalau rempah-rempahnya ini di giling dengan cara tradisional, karena saat didiamkan bumbu-bumbunya turun dan terlihat jelas potongan serai yang kasar.

Warna kuahnya memang tidak semerah nasi bebek Mona tadi, tapi pedasnya sungguh luar biasa. Ayah, begitu kami memanggil penjual nasi bebek kuntilanak ini, ternyata menggunakan cabai rawit sebagai sumber pedasnya. Ini berbeda seperti penjual nasi bebek lain yang lebih banyak menggunakan cabai merah kering. Pantas saja pedasnya begitu menendang dan saya sampai berkeringat jagung melahapnya.

karena perjalanan untuk melahap nasi kuntilanak ini lumayan jauh, dan hanya buka pada malam hari. Saya harus benar-benar menyiapkannya rencana makan nasi bebek ini secara matang. Biasanya, saya akan mengurangi porsi makan siang, atau terkadang tidak makan siang sama sekali.

Sesampainya, saya akan memesan dua porsi. Porsi pertama saya akan melahapnya dengan nasi panas. Saat kuahnya disiram pada nasi yang panas itu, asapnya akan langsung mengepul. Aroma bumbunya pun akan menguap. Sedangkan untuk porsi yang ke dua, saya sengaja tidak melahapnya dengan nasi. Tapi, meyeruput kuahnya. Agar lebih nikmat saya mencocor daging pada kuahnya yang kental itu dengan tangan.

Menarikanya lagi, di sini kita boleh menambah nasi dan kuah sepuasnya. Semuanya tetap dihitung satu porsi. Untuk harga satu porsi nasi bebek yang menantang ini hanya Rp. 10 ribu. Lumayankan.

Sebenarnya di sini juga di jual daging ayam dan sie reboh. Kalau untuk daging ayam saya masih angkat jempol. Tapi, untuk sei reboh saya memang kurang tertarik, lidah saya memang tak terbiasa dengan kuahnya yang begitu asam. Wajar saja karena kuahnya menggunakan campuran cuka. Pernah sekali saya mencoba, mungkin saja sie reboh di sini membuat saya berubah pikiran. Ternyata benar-benar di luar dugaan, sie reboh di sini jauh lebih asam dari sie reboh yang pernah saya coba. Ah, begitulah kalau rasa itu memang tidak pernah bohong.

Banda Aceh, 8 Juni 2011
Pukul 08;52 WIB

Iklan