Cahaya matahari pecah di kubah mesjid Al Azizi, Tanjung Pura. Warna bangunannya yang kuning keemasan menjadi kian merona. Siang itu matahari memang sedang teriknya. Setelah menempuh 2 jam perjalanan dari Medan saya turun dari Jumbo (nama angkutan Medan – Aceh), seketika itu pula saya disergap kekaguman yang tak terkira. Di hadapan saya mesjid Al Azizi berdiri dengan megahnya. Pagarnya yang luas seolah hendak memeluk siapa pun. Tunai juga mimpi itu, saya bergumam. Lalu meraih sebuah notes kecil, melingkari resolusi no 18 dalam hidup saya.

Ya, mengunjungi mesjid Al Azizi adalah mimpi saya yang telah bersemayam cukup lama. Pertama kali saya melihat mesjid ini di sebuah almanak, tak ingat lagi tahun berapa. Entah bagaimana pula mesjid ini bagi saya sangat menarik, kesan melayunya begitu kuat. Bahkan setiap kali melewati sumatra utara, dan melintasi Tanjung Pura, saya sangat emosional untuk bisa mengunjungi mesjid ini. Bersama Surya, sahabat SMA saya. kami pun sepakat untuk melihat lebih dekat pesona apa yang tersimpan di Mesjid kebanggan masayrakat Tanjung Pura ini.

Mesjid nan megah ini dibangun pada tahun 1897-1927 silam, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah. Pembangunan mesjid ini berlangsung selama 18 bulan, dengan biaya tak kurang 200 ribu ringgit dihabiskan untuk membangunnya. Lalu tepat 12 Rabiulawal 1320 Hijriah atau 13 Juni 1902, mesjid ini pun diresmikan.
Kemegahan mesjid Al Azizi ini sudah terkenal sampai ke mancanegara. Wisatawan Malaysia, Singapura dan Brunai Darussalam kerap datang kemari. Konon, di Malaysia tepatnya di Keddah ada mesjid yang serupa dengan mesjid Al Azizi ini, namanya yaitu mesjid Zahir.

Halaman mesjid ini begitu luas, di hadapannya rumput hijau juga terawat dengan rapi. Sehingga ketika berjalan kaki memasuki kompleks mesjid ini, kita terlebih dahulu disajikan pesona tekstur bangunannya yang megah. Bangunan utama mesjid Al Azizi ini bercorak Timur Tengah dan India, dengan lebih dari sembilan kubah. Bangunannya kuat karena tiang-tiang masjid terbuat dari logam. Kesan pertama yang saya tangkap, mesjid ini menyajikan 2 pesona sekaligus. Pesona kejayaan melayu tempo dulu, dan modrenitas yang bernuansa klasik. Maka, wajar saja siapa pun yang pertama kali melihatnya akan disergap rasa kagum, saya saja sampai lama mematung, menikmati pesonanya.

Memasuki interiornya hawa sejuk langsung menghampiri. Lantainya terbuat dari marmer dengan bidangnya yang besar. Dua buah pintunya berbahan kayu, ukuranya kecil namun memanjang ke atas. Sebuah ukiran kaligarafi melekat di atas kusen pintunya. Warna kuning keemasan tetap menjadi warna dasar dinding mesjid ini, dan garis-garis hijau disetiap sisi pintu maupun kusen semakin menambah kuat kesan melayunya. Eksotis sekali.

Ruangan dalam mesjid ini ternyata tidak terlalu luas, belum lagi sebuah mimbar yang berdiri di tengahnya membuat mesjid terkesan sempit. Karenanya, setelah berwudhu saya sengaja shalat di dua shaf terdepan yang terasa lebih lapang. Dan, saya pun larut beberapa saat.

Seusai shalat saya keluar melihat sekiling mesjid ini. Ada banyak makam di sisi kanannya. Di kompleks pemakaman itu pula, terdapat empat makam pahlawan Langkat yang masih berdarah Sultan. Di antaranya, T Abdurrahman (wafat 1909), T Soelaiman bin Tengku Syahruddin bin Tengku Al Haj Aminulah, yang dibunuh saat huru-hara 1946 dan di sampingnya ada T Rusian bin T Ahmad Alfatiha. Lalu, seorang lagi adalah pahlawan yang namanya cukup panjang, yaitu T Harun Azis Bin Sultan Abdul Aziz Abdul Djalil Rachmad Shah, yang wafat saat revolusi tahun 1946.

Selain itu di pemakaman ini pula, ada juga makam seorang sastrawan masa Pujangga Baru yang cukup terkenal yaitu Tengku Amir Hamzah. Beliau adalah sang Raja Penyair Pujangga Baru, yang meninggal dalam peristiwa kerusuhan sosial 1946 di Langkat.

Siang itu matahari memang sedang teriknya, setelah puas berkeliling dan melakukan ritual penting yang kerap dilakukan wisatawan yaitu sesi dokumentasi. Saya pun menikmati sebuah air kelapa muda di depan Mesjid Al Azizi ini. Dengan perasan jeruk nipis Taiwan dan siraman air gula merah pada air kelapa, membuat siang itu benar-benar menjadi hari yang paling berkesan dalam hidup saya. Ah, Tanjung Pura.

Kampung Durian, 14 November 2011
Pukul : 10;20 WIB.

Iklan