???????????????????????????????

Cahaya senja menyiram batu-batu kusam di tepian jurang itu. Bebatuan tersebut tampak kokoh.  Erat satu sama lain. Sebuah akar kayu menghujam di sela-selanya. Di hadapannya, membentang laut Krueng Raya yang tenang. Ratusan tahun lalu, di laut yang tenang itu bak panggung yang mementaskan betapa heroiknya perempuan Aceh melawan penjajah. Mereka berjibaku melawan tirani di tengah laut. Kapala-kapal Belanda pernah hangus terbakar. Seorang Jendralnya tewas tertikam rencong.

Inilah Benteng Inong Balee, saksi bisu tentang ketangguhan perempuan Aceh masa silam. Benteng yang menjadi basis sekitar 2000 tentara perempuan Aceh yang rela syahid melawan penjajah. Tentara ini disebut Inong Balee, yang artinya adalah perempuan Janda. Karena mereka adalah para perempuan yang suaminya syahid dalam peperangan. Meskipun perempuan, tentara Inong Balee ini telah berulang kali terlibat dalam pertempuran sengit. Seperti, pertempuran di Selat Malaka, Pantai Timur Sumatera hingga ke Malaya.

Benteng Inong Balee terletak di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Atau sekitar satu KM dari pelabuhan Krueng Raya. Posisinya tepat  di atas bukit, dengan jurang yang curam di awah. Sementara di hadapan, benteng ini menghadap langsung ke Selat Malaka. Ada lubang-lubang besar di sana. Fungsinya, untuk mengarahkan moncong meriam ke laut. Karena dari Benteng inilah, tentara Inong Balee memantau setiap kapal yang keluar masuk ke Selat Malaka.

???????????????????????????????

Bila kita berdiri di atas bukit ini, kita bisa melihat Krueng Raya secara utuh. Pelabuhannya, rimbunan pepohanan kelapa yang tumbuh di bukit-bukit. Kapal-kapal nelayan yang tengah mencari cumi dan ikan, tampak tertambat sembarang di Teluk Krueng Raya. Maka berdiri di puncak bukit Benteng Inong Balee ini, kita bisa merasakan betapa indahnya negeri Serambi Mekkah ini.

Beginilah dulu para tentara Inong Balee memantau setiap lalu lintas kapal yang masuk ke perairan Aceh. Mereka mengawasi sekaligus meneguk pesona dari gugusan pulau Aceh ini. Sehingga rasanya wajar, ketika mereka begitu bersemangat memekikkan takbir saat melawan penjajah. Tanpa ragu melesatkan anak-anak panah ke tubuh mereka. Rasa cinta pada tanah lahir, telah menerbit perasaan setia dan rela berkorban dalam diri mereka.

Sejarah berdirinya Inong Balee bermula ketika terjadi pertempuran di Laut Haru, antara Kerajaan Aceh dan armada Portugis. Perang itu terjadi semasa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayat Syah Al Mukammil. Kala itu, kemenangan memang berhasil Kerajaan Aceh raih, tapi seribu tentara Aceh syahid dan dua Laksamananya gugur dalam perang tersebut.

Satu di antara Laksamana yang syahid itu adalah suami dari Keumalahayati. Seorang perempuan yang kemudian menjelama menjadi Laksamana Perempuan pertama di dunia yang tangguh. Kematian suaminya itu, membuat dirinya marah. Ia bertekad akan menuntut balas, dan berjanji akan meneruskan perjuangan suaminya untuk melawan penjajah. Lalu, Keumalahayati pun meminta kepada Sultan Al Mukammil yang ketika itu menjabat sebagai Sultan Aceh, untuk membentuk armada perang Aceh yang seluruh prajuritnya adalah para janda, yaitu mereka yang suaminya syahid dalam peperangan di Teluk Haru itu.

DSCN1608

Sultan sepakat, Keumalahayati pun diangkat sebagai Laksamana dan bertugas untuk memimpin sekitar 1000 tentara Inong Balee. Lalu setelah di bawah kepemimpinan Keumalahayati, jumlah tentara itu diperbesar menjadi 2000 tentara. Tambahan tentara ini, bukan lagi dari kalangan para janda. Tapi gadis remaja yang tergerak hatinya untuk bergabung menjadi tentara.

Keumalahayati sendiri, sebelumnya memang pernah dilatih oleh akedemi militer Aceh yang bernama Mahad Baitul Maqdis. Akedemi Militer ini terdiri dari angkatan darat dan laut. Para instrukturnya sebagian merupakan orang-orang dari Turki. Di akedemi militer ini, Keumalahayati adalah salah satu lulusan terbaiknya.

Marie van Zuchyelen, seorang penulis dari Belanda, memuji Keumalahayati dan armada perempuannya ini dalam bukunya “Vrouwolijke Admiral”. Ia mengatakan, bahwa Laksamana Keumalahayati dan  2000 perajurit Inong Balee adalah prajurit yang gagah dan tangkas.

Satu cerita yang membuktikan perkataan Marie van Zuchyelen ini adalah, ketika Keumalahayati berhasil membunuh seorang Jendral Belanda yaitu Cornelis de Houtman. Ceritanya, ketika itu Cornelis de Houtman datang ke Aceh untuk yang kedua kalinya. Menggunakan dua buah kapal Galey yang besar, ia datang bersama adiknya, Ferdrick de Houtman. Ternyata, kedatangan sang jendral ini adalah untuk niat yang tidak baik.

Mengetahui hal itu, Sultan Aceh langsung memberi perintah, untuk menyerang orang-orang Belanda yang ada di dalam kapal. Penyerangan itu dipimpin langsung oleh Keumalahayati. Benar-benar di luar dugaan, dengan sebilah rencongnya, Keumalahayati berhasil menikam perut Jendral Belanda yang kejam ini  dalam sebuah pertarungan satu lawan satu. Bersama tentara Inong Balee, Keumalahayati juga berhasil menawan tentara Belanda. Sementara adiknya, Fardrick de Houtman pun dimasukkan ke dalam penjara.

???????????????????????????????

Tak lama setelah peristiwa terbunuhnya Cornelis de Houtman. Tepat tanggal 21 Nopember 1600 M, dua buah kapal Belanda datang lagi ke Aceh. Rombongan itu dipimpin oleh Paulus van Caerden. Sebelum memasuki perairan Aceh, ternyata mereka telah menenggelamkan sebuah kapal dagang Aceh. Dengan terlebih dahulu memindahkan segala muatan lada yang ada di kapal tersebut ke kapal-kapal Belanda. Lalu pergi begitu saja meninggalkan perairan Aceh tanpa merasa bersalah.

Peristiwa ini terang saja membuat kesultanan Aceh marah. Lalu tak lama setelah itu, datanglah kembali kapal Belanda ke perairan Aceh yang dipimpin Yacob van Neck. Mengetahui kapal yang datang itu berasal dari Belanda. Keumalahayati langsung menawan kapal tersebut. Seteleh sebelumnya ia menginformasikan, bahwa kapal Aceh telah dirampok oleh Belanda. Maka penawanan tersebut, adalah bentuk sebuah ganti rugi yang rakyat Aceh alami.

Semakin hari tentara Inong Balee memang semakin menunjukkan wibawanya. Mereka kian disegani karena ketangguhannya. Keumalahayati sendiri, yang merupakan Laksamana perempuan pertama di dunia, menjadi kian disegani. Tidak hanya lihai di laut. Keumalahayati juga lihai dalam berdiplomasi. Ia banyak terlibat dalam berbagai perundingan baik dengan pemerintah Belanda maupun Portugis. Sifatnya yang tegas dan sangat disiplin dalam mempertahankan prinsip, membuat dirinya kian berwibawa di meja perundingan.

Keumalahayati juga pernah diberi wewenang oleh Sultan Mukammil untuk menerima dan menghadap utusan ratu Inggris, yaitu Ratu Elizabeth I yang datang ke Aceh. Utusan itu adalah Sir James Lancaster, ia datang dengan tiga buah kapal dan membawa sepucuk surat dari Ratu Inggris tersebut.

???????????????????????????????

Begitulah Keumalahayati, Ia tidak hanya gagah di laut. Tapi juga penuh Karisma baik di Kesultanan Aceh maupun di hadapan para tamu asing yang datang di Aceh. Tentara-tentara Inong Balee-nya pun menjelma menajadi armada perang yang cukup diperhitungkan, sampai-sampai pemerintah Belanda harus berfikir ulang untuk menyerang Aceh.

Seperti cahaya senja yang menyiram bebatuan kusam di Benteng Inong Balee itu. Meskipun kisah ini telah terjadi cukup lama, tapi kilauan sejarahnya tetap tak akan pudar. Dan pada para Srikandi Aceh ini, kita belajar satu hal penting. Tentang bagaiman semestinya perempuan membangun wibawanya.

Ketika orang-orang berteriak tentang emasipasi wanita. Perempuan Aceh ternyata sudah terlebih dahulu membuktikan, bagaimana semestinya perempuan memperjuangkan hak-haknya. Tanpa harus merendahkan martabat, dan justru mewangi dalam kenangan sejarah.

*Diterbitkan di Majalah Tarbawi Edisi 304

Iklan