Di ujung paling barat Indonesia, tugu Kilometer Nol berdiri. Tegak mempertegas kedaulatan kita sebagai sebuah negara. Kokoh mengikat kemajemukan kita sebagai bangsa.

IMG_9364
Berdirilah di tugu Kilometer Nol, lalu rentangklanlah tangan kita di sana. Rasakan angin laut Andaman dan deru ombak Samudra India. Dengarkan hempasan ombak Selat Melaka yang menghantam tebing. Saat kita berdiri di sana, di titik paling barat Indonesia ini, kita serasa berdiri di ujung sebuah kapal besar bernama Indonesia. Bak Leonardo de Caprio yang berdiri di ujung kapal Titanic, begitulah. Rasa bangga dan haru bercampur menjadi satu. Di titik Kilometer, kita bisa merasakan Indonesia dengan sensasi yang berbeda.

Memang rasanya tak lengkap kalau kita berkunjung ke pulau Sabang tanpa menjejakkan kaki di tempat ini. Seperti Fahri, salah seorang pengunjung yang berasal dari kota Medan. Ini kali pertamanya dia berkunjung ke Sabang, dan Tugu Kilometer Nol adalah salah satu destinasi yang wajib ia kunjungi. “Pokoknya awak harus sampai ke sini” ungkapnya pada Tarbawi dengan logat Medannya yang khas.
IMG_9420

Tugu Kilometer Nol letaknya di pulau Sabang, tepatnya di Desa Iboih Ujong Ba’u Kecamatan Sukakarya. Dengan koordinat 〖05〗^0 54’ 21,99” Lintang Utara serta 〖95〗^0 12’ 59,02” Bujur Timur. Tugu ini bentuknya silinder dengan tinggi 22,5 meter. Lantai dasarnya bulat, dengan diameternya enam meter. Di bawahnya, terdapat sebuah prasasti persemian tugu ini yang ditandatangani oleh wakil presiden Try Sutrisno pada tanggal 9 September 1997.

Bangunan ini didominasi warna putih. Dengan garis-garis orange pada sebagian sisi luar dan pada pegangan tangganya. Ada sebuah prasasti yang menerangkan posisi Kilometer Nol Indonesia. Dan ini, merupakan tempat favorit orang-orang untuk mengabadikan momentnya di tugu Kilometer Nol. Tempat favorit lainnya adalah, tepian tebing yang jaraknya sekita 15 meter dari bangunan ini. Di sanalah kita bisa merasakan denyut bangga karena telah berada di ujung paling barat Indonesia.

Satu hal yang miris dari bangunan ini adalah kesannya yang kurang terawat. Seperti terlihat di atas bangunan ini, tampak miniatur burung garuda yang seharusnya berdiri kokoh. Namun sayangnya, lambanga negera itu itu tidak lagi berdiri tegak. Ia sudah patah dan tersangkut pada besi-besi penyangga di atas bangunan ini.
Sesungguhnya titik koordinat Kilometer Nol Indonesia tidak persis di tempat ini. Berdasarkan data teknis yang tertulis di bangunan ini, tertulis jelas posisi geografis 0 Indonesia berada di 〖05〗^0 54’ 21,42 Lintang Utara dan 〖95〗^0 13’ 00,50” Bujur Timur pada ketinggian 43 meter di atas permukaan laut. Maknanya, ada tempat lain yang posisinya paling barat Indonesia. Tempat itu adalah Pulau Lhee Blah dan Pulau Rondo, yang merupakan pulau kecil sebelah barat pulau Breuh.

Namun, atas pertimbangan teknis maka pembangunan titik Kilometer Nol ini dipilihlah letaknya di pulau Sabang. Keputusan itu diambil oleh BJ Habibie yang kala itu menjabat Menteri Riset dan Teknologi. Alasannya, karena akses yang sulit saat itu dan belum adanya infrastruktur yang memadai untuk menuju tempat paling barat Indonesia itu.
Dan kini, banyak turis asing maupun lokal yang datang ke tugu Kilometer Nol . Perjalanan menuju kemari juga sangat mengesankan. Sebab, sepanjang perjalanan dari Iboih menuju tempat ini, kita disuguhi hutan wisata Sabang yang teduh. Dengan jalannya yang tak terlalu lebar namun beraspal mulus. Bahkan karena rimbunnya hutan wisata ini, cahaya matahari pun tak bisa sepenuhnya masuk.

Untuk mencapat tempat tugu Kilometer Nol tidaklah sulit. Jaraknya dari Balohan, yang merupakan pelabuhan sekaligus pintu masuk ke pulau Sabang, hanya berjarak 35 KM. Tidak ada angkutan umum menuju kemari. Jadi sekiranya kita tidak membawa kendaraan, kita bisa menyewa sepeda motor.

Perjalanan dengan sepeda motor juga lebih menarik. Sebab kita bisa menikmati suasana hutan wisata Sabang yang sejuk itu. Melintasi jalannya yang berliku-liku dan cenderung naik turun. Adrenalin kita mungkin akan terpacu, saat menyadari bahwa kita sedang menelusuri tepian tebing.

Pemerintah Kota Sabang tidak memungut tarif untuk masuk ke tempat ini. Bahkan, pengunjung bisa mendapatkan sertifikat dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Sabang. Sebagai bukti bahwa kita telah sampai di tempat ini. Dan tentu saja, moment yang historis personal ini menjadi sangat berarti bagi setiap pengunjung yang datang kemari.
Tugu Kilometer Nol memang bukan sekedar destinasi wisata unggulan pulau Sabang. Sejatinya, tugu ini juga wujud identitas kedaulatan kita sebagai bangsa. Batas teriotorial kita dengan dunia luar. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di luar sana.Maka saat kita sampai di sini, rasa nasionalisme kita membuncah. Ada semacam perasaan tanggung jawab, bahwa diri ini wajib menjaga kedaulatan bangsa yang besar ini.

Indonesia dengan beragam suku dan etnisnya yang terbentang dalam 17 ribu lebih pulau-pulaunya, dan terbagi dalam 34 provinsi yang punya karakteristik masing-masing. Semua keragaman itu, bermula dari sini, dari titik kilometer nol. Seperti yang tersurat dalam lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” karya R Soerardjo. Segala kemajemukan itu adalah khazanah, dan juga merupakan bukti bahwa kita bangsa yang berbudaya.

Dulu, saat Aceh masih dilanda konflik yang panjang, sempat berkembang anak dot. Kalau sekiranya Aceh merdeka, lagunya bukan lagi dari Sabang sampai Merauke seperti yang sering kita dengar. Akan tetapi, lagunya adalah “Dari Sabang Sampai Langkat Tamiang (batas Aceh-Sumatera Utara). Maka berdirinya tugu Kilometer Nol ini menjadi sangat penting. Tugu ini tegak mempertegas kedaulatan kita sebagai Negara dengan dunia luar. Dan kokoh mengikat segala kemajemukan kita sebagai sebuah bangsa.

Di luar sana, orang-orang boleh bicara apa saja tentang Indonesia. Segala kabar tak baiknya yang sudah menjadi rahasia umum. Meskipun kita sendiri terkadang telah menyadari semua hal itu. Akan tetapi, sebagai orang Indonesia semestinya kita punya definisi yang indah tentang negara ini.

Indonesia harus selalu punya ruang di dalam hati kita. Dan saat kita berdiri di tugu Kilometer Nol, kita bisa merasakan itu. Rasa bangga dan bersyukur menjadi bangsa Indonesia. Ya. Berdirilah di sana, dan kita bisa merasakan Indonesia dengan sensasi yang berbeda.

*Tulisan ini telah dimuat di Majalah Tarbawi edisi 310

Iklan