Front_of_the_Class_poster
Sepintas Brad adalah lelaki yang sempurna. Ia memiliki wajah yang tampan, tubuh yang gagah. Hanya saja, ia kerap mengeluarkan suara-suara aneh. Suara itu mirip cegukan dan cukup menganggu. Setelah diselidiki, ternyata Brad terkena tourette syndrome yaitu gangguan neurologis di mana otak mengirim sinyal untuk tubuh. Ini seperti bersin, sesuatu perintah otak yang tak tertahankan.

Apakah hal itu menyakitkan? Tidak. Hanya saja, gara-gara hal tersebut, Brad tersisihkan dari lingkungannya. Di sekolah, ia ditertawakan. Tak terhitung sudah berapa kali ia berganti sekolah.Tapi Brad, tak menyerah. Ia tetap percaya diri dan tak patah semangat mengejar mimpinya, yaitu menjadi seorang guru. “Aku tak ingin Touretee ini menang,” begitulah Brad menegaskan tekadnya.

Suatu hari, di sebuah sekolah yang kesekian kalinya. Brad dipanggil oleh kepala sekolah gara-gara penyakitnya tersebut. Brad pun siap menerima kenyataan bahwa ia akan kembali dikeluarkan. Setelah mengetahui masalahnya, Pak Mayer, sang kepala sekolah membawa Brad untuk menghadiri konser orkestra sekolah. Tapi Brad menolak, karena ia sadar kehadirannya pasti akan menganggu. Tapi Pak Mayer menjaminnya, hingga ia tak kuasa menolak tawaran tersebut.
hqdefault

Benar saja, selama konser suara Brad sangat menganggu. Orang-orang di sekitarnya berulang kali meningingatkan Brad untuk diam. Tapi tetap saja Brad tak bisa menahan dirinya untuk tak bersuara. Ternyata hari itu, Pak Mayer berupaya mengenalkan Brad dan penyakitnya kepada semua penghuni sekolah. Pak Mayer ingin orang-orang tahu, kalau Brad tak berniat menganggu mereka dengan suara anehnya tersebut.

“Apa yang bisa kami bantu untuk menolongmu, Brad?” Tanya Pak Mayer
“Aku hanya ingin kalian menerimaku, seperti orang normal lainnya,” ucap Brad yang kemudian disambut tepuk tangan seluruh hadirin.

Pengalaman hari itu, benar-benar berarti bagi Brad. Ia semakin percaya diri dalam menjalani hari-harinya. Pengalaman itulah, yang membuat Brad bercita-cita menjadi seorang guru. Pak Mayer telah menginspirasi hidupnya.

Brad pun terus tumbuh, ia berhasil menyelesaikan studinya. Ia berupaya melamar pekerjaan ke sekolah-sekolah. Tapi penolakan-penolakan terus diterimanya. Tak ada sekolah yang mau menerima Brad gara-gara tourette syndrome-nya itu.
Semua kegagalan tersebut membuat Brad hampir patah semangat, ia merasa begitu tak berdaya. Beruntung, Brad mempunyai seorang ibu yang mengerti. Ibunya terus menyemangati Brad untuk terus berjuang.
“Jangan izinkan Tourrete menang, Brad!” ucap ibunya.
images (1)

Film yang disutradai Peter Wener ini membawa pesan yang sangat penting, yaitu bagaimana kita sebaiknya memperlakukan orang-orang yang “berkebutuhan khusus” seperti Brad dengan baik. Bagi mereka, penerimaan seperti itu sangat berarti. Keterasingan justru membuat mereka semakin tertekan.

Di sisi lain, semangat Brad untuk meraih impiannya patut menjadi inspirasi bagi kita yang hidup normal. Brad terus berjuang, ia tak ingin kalah dengan penyakitnya itu. Lantas apa rahasia Brad bisa melewati hari-harinya yang berat tersebut? Karena aku punya sahabat, ucapnya suatu kali, dan ia adalah Toureeteku.

Darussalam, 6 November 2015
Pukul 10:44 WIB

Iklan