supergrandpas
Di kampung saya, ada seorang kakek yang cukup unik. Kalau ia melintas bersama sepeda tuanya, dan orang-orang (yang biasanya anak-anak) menyapanya dengan kalimat, “Kek, I love you”. Maka , kakek tersebut secara spontan akan membalas, “no time for love”. Kami pun secara spontan pula cekikikan mendengarnya. Dan kakek itu terus berlalu, tak peduli pada orang-orang kampung yang terus cekikikan menertawakannya.

Karena prilaku uniknya itu, kami pun menggelari kakek ini dengan sebutan Kakek I Love You. Bagi saya, itu adalah kata-kata asing yang pertama kali saya dengar. Khususnya pada kalimat, No time for love. Meskipun tak sepenuhnya memahami arti kalimat tersebut, tapi saya terkagum-kagum pada kakek itu. Saya penasaran, dari mana kakek ini belajar bahasa Inggris.

Tapi kemudian, setelah saya masuk SMP dan dikenalkan pelajaran bahasa Inggris. Saya akhirnya bisa mengerti arti kalimat tersebut. Namun hanya sebatas itu, saya hanya tahu artinya. Tapi tidak memahami maknanya lebih luas. Karena sebenarnya kalimat ini punya filosofi yang dalam. Anak seusia kami, yang belum teracuni buruknya sinetron, belum mampu mencerna pesan itu dengan baik.

Saya pun tumbuh dewasa, hingga kemudian perlahan memahami. Bahwa kalimat no time for love yang dulu kami tertawakan itu. Adalah frase dari sebuah gejolak perasaan yang sebenarnya harus kami cerna baik-baik.

No time for love, bukan tentang tidak peduli pada urusan cinta. Saya ingat, saat kakek tersebut mengucapkanya. Ia berlalu dengan acuh, menjawab sekenanya saja. Bukan sesuatu yang penting, buang-buang waktuku saja, mungkin begitulah pikiran kakek tersebut. Maka ia terus berlalu bersama sepeda tuanya dengan wajah datar, meninggalkan orang-orang yang menertawakannya.

Kakek itu, tak ingin diperbudak cinta. Ia fokus pada tujuan hidupnya. Toh, cinta juga tak akan kemana. Ia seolah menjaga jarak pada urusan cinta. Mencoba tak peduli, tapi memeluknya dalam mimpi. Seolah tak akur, tapi diam-diam mengagumi. Karena saya tahu, kakek itu hanya tinggal berdua bersama istrinya. Setiap hari ia bekerja, menjemput rizki untuk istrinya itu. Maka baginya, cinta tak perlu penjelasan lagi.

Diam-diam saya pun merenungi, sepertinya kakek tersebut sengaja dititipkan Tuhan di kampung kami. Lalu mengucapkan no time for love setiap kali orang menyapa. Pesannya, agar kami belajar bagaimana cinta yang sebenarnya. Maka kalimat itu, yang tampaknya sederhana, sebenarnya adalah doktrin perihal urusan dunia yang pertama kali kami kenal.

Banda Aceh, 12 Desember 2015
Pukul: 22:55 WIB

Iklan