IMG_20151216_224738_HHT[1]
Seekor anak kucing datang ke kediaman saya malam ini, padahal jarum jam telah menunjukan pukul 11 malam. Tubuhnya mungil, dengan bulu berbelang dua yang kusut. Kucing mungil ini tidak bersuara, ia mengejar saya saat keluar hendak ke kamar mandi.

Ternyata, ia telah menunggu saya di tangga balai. Malam ini, karena hendak menulis saya memang tidur pada sebuah balai kecil di samping rumah.Setelah menunaikan urusan di kamar mandi, saya mengangkat kucing malang ini ke balai. Ia mengelus-ngeluskan kepalanya pada tangan saya. Menatap saya sejenak, lalu mengelus bulu kusutnya kembali.

Ah, mungkin ia lapar,
Lalu saya memberikan ia sepotong bakpia Sabang, logistik yang saya siapkan karena malam ini akan bergadang. Saya juga meletakan Cleo gelas, kalau ia haus atau cekukan 😀 Saya tidak tahu, kucing ini sakit atau tidak. Sebab ia tidak mengeluarkan suara, tapi ia masih terlihat lincah. Hanya bulunya saja yang terlihat kumal. Ia pun begitu lahap ketika menyantap sepotong bakpia Sabang itu.

Karena melihat ia yang tampaknya akan baik-baik saja, saya pun masuk kembali ke kamar. Tapi tak berapa lama, perasaan saya jadi tak enak. Apalagi di luar angin sedang kencang. Ketika pintu kamar saya buka kembali, kucing itu tidak ada. Bakpia Sabang pun tinggal remah-remahnya saja.
IMG_20151216_233225_HHT[1]
Saya memanggilnya, push…. Seketika ia pun keluar dari helm hitam yang saya letakan di lantai Balai. Oh, ternyata ia berlindung di sana. Akhirnya, saya mengajak kucing ini masuk ke dalam kamar saya. Saya letakan sebuah baju putih yang sudah tak terpakai di lantai. Lalu mendudukan kucing mungil itu di sana. Ia diam sejenak, tapi kemudian kembali menghampiri saya yang sedang menulis. Mengelus-ngelus lengan saya yang asyik mengetik.

Lalu maju ke depan, menginjak tuts keyboard sehingga menampilkan kombinasi huruf yang aneh di layar. Saya membiarkannya sejenak, hingga kemudian meletakannya kembali pada kain putih. Kini, kucing berbulut kusut itu duduk diam di sana. Matanya belum terpejam, ia diam menemani aktivitas saya malam ini.

Sebenarnya, sebelum mengetik tulisan ini. Saya berencana rehat sejenak dengan menonton film berdurasi pendek. Sebab saya baru saja menuntaskan sebuah tulisan, dan masih ada beberapa tulisan lain yang menunggu. Tapi entah mengapa, kedatangan kucing mungil itu malam ini mengusik batin saya.

Saya sendiri bukan penggemar kucing. Maka saya tidak merasa ada sesuatu yang istimewa, sehingga kucing itu datang kediaman saya. Tapi yang jelas, kehadirannya malam ini telah menjadi semacam hiburan hati. Entah berapa lama ia telah menunggu saya di tangga balai. Diam dengan penuh kesabaran menanti saya membukakan pintu kamar.

Sejenak, saya berfikir mungkin demikian pula hidup kita. Harus ada yang memulai, untuk membukakan pintu hatinya pertama kali. Sebab bisa jadi, di sanalah awal dari kebaikan-kebaikan hidup kita. Jika kita tak punya keberanian untuk itu, maka yang kita alami seperti kucing berbulu kusut itu. Terus menunggu dalam masa keyakinan yang entah.

Maka pertemuan antara keberanian dan kesabaran akan terus begitu. Akan terus menjadi takdir yang paling misterius dalam kehidupan kita.

Kucing berbulu kusut, tidurlah dengan nyenyak. Semoga esok kita punya hari yang cerah 🙂
Meunasah Baet, 17 Desember 2015
Pukul 00:26 WIB

Iklan