IMG_20151231_075931_AO_HDR
Jika ada sosok yang paling antagonis selama daurah. Maka saya kira, semua orang akan sepakat bahwa sosok tersebut adalah toa. Ya, suaranya yang melengking di waktu-waktu yang tak menentu. Selalu saja membuat perasaan jengkel. Saya sendiri pernah tersentak , karena tiba-tiba saja mulut toa itu sudah di telinga saya. Lalu menjerit sesuka hatinya. Ia tidak peduli terhadap mimpi-mimpi indah saya saat tidur siang itu. menjengkelkan sekali.

Benda itu, rupanya saja yang putih tapi tabiatnya membuat kita istighfar berulang-ulang. Siapapun yang memegangnya, maka secara otomatis ia juga menjadi tokoh antagonis. Setampan apapun pemegang benda tak berperasaan tersebut, jika ia telah membuatnya menjerit. Maka orang-orang secara otomatis pula berpandangan sinis terhadapnya. Pelakunya bisa menjelma sosok yang buruk rupa. Begitulah, tak ubahnya cinta, kebencian juga bisa menular.

Maka bayangkan saja, jika yang mengendalikannya adalah sosok dengan wajah yang alakadarnya. Maka sempurnalah kebencian orang-orang. Dan berdasarkan pengamatan saya, sosok demikianlah yang kerap membuat toa itu menjerit.
Toa itu punya jadwal rutin untuk menjerit. Yaitu pukul setengah empat pagi, untuk membangunkan para anak manusia yang masih terlelap untuk segera qiyamul lail. Ia tak peduli, bahwa saat itu gravitasi kasur berada dalam kondisi lebih besar dari gravitasi bumi. Lalu menjelang zhuhur, saat waktu istirahat yang diberikan melebihi batas wajar. Sehingga para santri lebih memilih tidur dari pada shalat sunnah rawatib.

Selain waktu-waktu yang telah ditentukan itu. Toa ini bisa menjerit kapan saja, jika saja ada penghuni santri melihatnya seorang diri. Toa ini baru teduh akalnya, bila ustad Teguh atau ustad Sonhaji di sampingnya. Meskipun pada waktu-waktu tertentu, kedua ustad ini sering kali membuatnya terkejut dengan menekan tombol sirine. Bahkan ustad pun tak sepenuh berdaya menaklukannya.

Saya sendiri pernah tergoda untuk menggunakan toa itu. Saya penasaran. Bagaimana rasanya ketika suara saya yang sumbang ini diteruskan oleh mulut toa tersebut ke seluruh penghuni pondok. “Haloo…” ucap saya pelan. Toa itu tak bergeming. Saya pun semakin tergoda untuk berteriak lebih keras.

“Hai… bangun..bangun…” teriak saya. Entah bagaimana, suara sumbang saya itu membahana di kamar. Lalu, para penghuninya yang kebanyakan sedang istirahat, seketika menatap sinis kepada saya. Cara mereka memandang, seolah bertemu teman lama yang telah lama menghilang karena berhutang. Geram.

Aneh, pandangan penuh kebencian tersebut justru semakin menggoda saya untuk berteriak. Membuat penghuni kamar semakin kesal. Beruntung azan Ashar tiba, yang seketika pula membuat saya sadar. Mengembalikan kembali akal sehat yang sempat lenyap sejenak.

Kini kami telah kembali ke rumah masing-masing. Di rumah kami bisa bangun sesuka hati. Tapi, bagi saya pribadi ada semacam kerinduan untuk mendengar suara toa tersebut. Beberapa hari terakhir ini saya sering terbangun pada tengah malam. Suara toa itu seolah memanggil dalam kesunyian. Ini memang aneh, bagaimana mungkin sesuatu yang mulanya kita benci, bisa menjelma menjadi sebuah kerinduan.

Ah, terlalu banyak misteri di Daarussa’adah. Terlebih lagi misteri yang melibatkan hati.

Ulee Kareng, 7 Januari 2016
Pukul 10:46

Iklan