IMG_20160101_190019Saya percaya bahwa dalam hidup kita. Selalu ada orang-orang yang secara sengaja dititipkan Tuhan untuk meringankan hidup kita. Ia berada di sekitar kita, menjalani rutinitasnya seperti biasa. Tapi bagi kita, mereka adalah penyeimbang kehidupan. Mereka memang bukan orang yang sempurna, namun itulah istimewanya. Ketidaksempurnaan mereka adalah penawar dari kepenatan hidup. Saat daurah kemarin, kami menemukan orang yang demikian. Ia adalah Alif.

Saya ingat ketika malam pengenalan, ketika ustad Teguh bertanya apa motivasi dirinya ikut daurah 12 hari menghafal 5 juz Al Quran. Dengan polosnya Alif menjawab, “Saya dipaksa orang tua Pak…” meledaklah tawa penghuni mesjid malam itu.
Alif adalah pribadi yang unik. Ia bertubuh gempal, selalu mengenakan baju kaos bergaris, lalu dibalut dengan baju koko berwarna putih, dengan kancing yang tak beraturan. Pecinya tak pernah dalam posisi yang wajar. Dan satu hal yang tak pernah lepas darinya, adalah kain sarung yang selalu melingkar di tubuhnya secara diagonal. Cara ia melingkarkan kain sarung itu, mirip selempang Abang None Jakarta. Maka sepintas, Alif mirip peserta Abang None Jakarta, yang patah semangat karena tereliminasi saat masih mengirimkan berkas.

Alif adalah pribadi yang tak terpengaruh oleh lingkungan. Buktinya, ia bisa tidur di mana dan kapan saja ia mau. Saat shalat, ketika imam membaca doa, saat orang-orang tertawa bahkan di antara orang-orang yang bershalawat. Jika hendak tidur, Alif punya gayanya sendiri, yaitu dengan menahan dagunya dengan punggung tangannya sendiri. Posisi tersebut mirip sekali dengan patung filusuf Aristoteles di Yunani sana. Saya sendiri tak habis pikir, bagaimana ia bisa tidur nyenyak dengan posisi yang statis demikian.

Gaya tidur Alif mirip patung Aristoteles
Gaya tidur Alif mirip patung Aristoteles

Begitulah, Alif menjadi dirinya sendiri. Ia tidak peduli dengan omongan orang-orang terhadap dirinya. Semua yang melekat pada dirinya, adalah identitas dirinya yang tak bisa diganggu-gugat. Alif menjalani kesehariannya dengan apa adanya. Ia selalu menjawab jujur apapun yang ditanyakan. Ia juga berani mengungkapkan pendapatnya. Seperti, ketidakyakinannya bahwa dalam 12 hari santri bisa menghafal 5 juz al quran.

Pernah suatu malam, saat kami selesai memberikan setoran hafalan. Ustad Teguh memanggil Alif yang kebetulan lewat. Semua santri berkumpul mengelilingi Alif. Lalu ustad Teguh menanyakan hal-hal sederhana pada dirinya. “ Enak di sini (pondok) Lif?” Tanya ustad Teguh. Lalu dengan polosnya Alif menjawab, “sedeng”. Caranya menjawab dengan suara yang sedikit sengau, menggelitik santri lain untuk tertawa.

Cara Alif berbicara memang unik. Pernah sekali waktu ia bercerita, kalau malam kemarin dirinya tak bisa tidur. Pasalnya, Angga teman sekamarnya bercerita tentang sosok anak kecil, yang kerap duduk sendiri tengah malam di depan kamar mereka. Gara-gara cerita itu Alif terjaga sepanjang malam, ia bahkan tidak berani ke kamar mandi. “Padahal saya mau buang air kecil, tapi karena takut saya tahan sampai pagi,” ungkapnya penuh kepolosan. Spontan saja cerita itu membuat santri lain tertawa.

Begitulah cara Alif menularkan keceriaan pada kami. Tak perlu banyak basa-basi. Cukup menjadi dirinya sendiri, tapi sudah mampu mewarnai hari-hari kami selama menjadi santri di Daarussa’adah. Menghafal Al Quran memang menguras tenaga. Tapi kehadiran Alif menjadi peredanya. Cerita dan kepolosan Alif telah menjadi semacam hiburan.

Kemarin, Alif mengirim BBM kepada saya. Ia bertanya, apakah pada Daurah ke 3 nanti saya akan datang lagi?
“Alif datang?” Saya bertanya balik. “Insya Allah Kak, kalau kakak?” Alif bertanya kembali. Saya terdiam. Lalu mengirimkan emoticon senyum. Saya tak berani memberikan jawaban jujur seperti Alif. Karena saya tak bisa memastikan apakah bisa datang kembali ke tanah Lampung. Meskipun dalam hati kecil saya, ada suara sunyi yang terus memanggil.

Ruang Redaksi, 8 Januari 2015
Pukul 17: 14 WIB

Iklan