IMG_20160116_181004_AO_HDR

Tema Indika FM pagi ini menarik, yaitu tentang titik balik kehidupan. Menceritakan beragam kisah orang-orang yang memutuskan masa lalunya yang kelam. Salah satunya adalah Totok, ia adalah mantan penjudi. Hampir setiap hari ia berjudi, sampai-sampai lupa keluarganya. Bahkan untuk mengurus dirinya sendiri pun ia tak peduli, seperti makan dan mandi.

Namun ia menyadari, bahwa sebenarnya uang judi itu tidak ada berkahnya. Meskipun ia menang namun ia tetap merasa hampa. “Jadi sebenarnya memang gak ada nikmatnyalah uang judi itu,” ungkapnya.

Titik balik kehidupannya adalah saat lebaran tahun lalu. Di malam takbiran itu ia masih di meja judi. Totok menang banyak. Namun saat itu ia mendengar suara takbir bersahutan. Saat itulah ia teringat anak dan istrinya yang masih di rumah. Menanti kehadirannya. Namun pilihannya tidak mudah, ia harus tetap bermain. Sebab lawan mainya dalam berjudi, telah mengalungkan celurit di lehernya kalau saja Totok berhenti bermain. Tapi beruntung, Totok bisa keluar juga dari tempat penuh maksiat itu, dan hingga hari ini ia telah mantap untuk tidak berjudi kembali.

Ada pula cerita Deri, seorang pecandu narkoba. Ia telah mengkonsumsi barang haram itu sejak SMP. Titik Balik kehidupannya adalah saat lebaran tiba ia masih teler. Lalu seseorang membangunkannya, memberikannya baju lebaran. Deri pergi shalat Id. Di sanalah ia merenungi hari-harinya yang lalu, “bagaimana mungkin aku  bisa tersesat sejauh ini,” pikirnya. Pagi itu, Deri merasakan hal yang baru dalam hidupnya.

Ada banyak kisah lain. Setiap cerita mereka adalah tentang kemenangan. Sebab mereka berhasil memutuskan, untuk lebih memilih suara hatinya dibandingkan bisikan syetan yang penuh keliru itu. Inilah sebenarnya yang dinamakan Kemenangan Sejati. Yaitu keberhasilan untuk menaklukan diri sendiri, mengendalikan hawa nafsu. Sebuah pilihan hidup yang tampaknya sederhana, tapi sejatinya tidaklah mudah.

Tiba-tiba saya pun teringat diri sendiri. Dalam keseharian, entah seberapa sering saya berhasil memutuskan dengan melibatkan suara hati. Atau justru sebaliknya, nafsulah yang menjadi juara dalam keputusan-keputusan hidup saya. Berada di persimpangan jalan seperti ini memang membingungkan. Ah, tidak. Mungkin karena saya tidak terbiasa saja. Sehingga semuanya tampak begitu sulit.

Maka, kesungguhan orang-orang ini adalah pengingat bagi kita. Bahwa menjadi baik itu memang harus sesegera mungkin. Bahwa suara hati kita itu, memang semestinya harus selalu kita dengar. Sebab, bila kita terus larut dalam kemaksiatan. Jalan untuk kembali akan semakin terjal. Sementara kita tidak pernah tahu, kapan maut itu tiba. Maka, berupayalah sepenuh hati untuk terus dekat kepada Allah.

Dalam surat Al Ankabut ayat 69, Allah mengajak kita untuk kembali ke jalaNya dengan penuh cinta.

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, maka kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami,”

Itulah janji Allah. Dan orang-orang ini, yang telah berjuang untuk menjadi baik. Mereka merasakah betul, bahwa kehidupanya hari ini jauh lebih menenangkan dibandingkan saat mereka masih bergelimang dosa. Sebab, di ujung ayat tersebut Allah juga mengatakan, “Sesungguhnya, Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik,”

Jika hidup kita sudah bersama Yang Maha Rahman, apalagi yang kita khawatirkan? Selamat datang para pemenang. Sudah saatnya suara hati kita, untuk lebih sering kita dengar.

Darussalam, 25 February 2016

Pukul 10:52 WIB.

 

Iklan