IMG_20160327_192122_AO_HDR.jpg

Ini adalah intisari dari tausyiah Ustad Budi Ashari, Lc saat mengisi kajian di Masjid Agung Al Makmur lepas Maghrib semalam. Saya berada di sana, mencoba untuk meresapinya sebaik mungkin. Selamat menikmati 🙂

Dalam sejarah kenabian, kita selalu menemukan cerita bagaimana Rasulullah selalu tepat dalam mengambil sebuah keputusan. Bahkan dalam kondisi yang sangat pelik sekali pun, Rasulullah tetap dapat mengambil keputusan dengan baik. Ternyata, ada inspirasi besar yang selalu tertanam dalam benak Rasulullah. Inspirasi itu adalah sejarah masa lalu dari ummat-ummat terdahulu.

Sebagai contoh, pada tahun kelima kenabian. Ada peristiwa besar yang terjadi pada ummat islam. Yaitu ketika para sahabat yang baru saja memeluk islam, mendapatkan intimidasi atau teror dari kaum kafir Qurais. Ada pertimbangan besar ketika itu.  Jika mereka tidak hijrah, maka iman mereka bisa tergadaikan. Sementara jika mereka terus menetap di sana. Mereka akan tenggelam dalam kezaliman para kafir Qurais.

Lalu kemudian, perkara ini sampailah di telinga Rasulullah. Dengan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya Rasulullah memutuskan agar ummat tersebut hijrah ke negeri Habasyah. Karena di sana, negeri tersebut dipimpin oleh  raja yang adil.

“Sesungguhnya di negeri Habasyah terdapat seorang raja yang tak seorang pun yang didzalimi di sisinya. Pergilah ke negerinya hingga Allah membukakan jalan keuar bagi kalian dan penyelesaian atas peristiwa yang menimpa kalian,” ucap Rasulullah.

Habasyah sendiri merupakan sebuah negeri yang kita kenal dengan nama Ethiopia. Penduduknya adalah al-Habasy, yang sekarang merupakan bangsa Sudan atau bangsa berkulit hitam. Ketika itu, Habasyah dipimpin oleh seorang raja yang bernama  An Najasyi, seorang pemimpin yang adil dan menjadi penyelamat aqidah para sahabat di saat awal-awal mereka memeluk islam.

IMG_20160327_192105_AO_HDR

Ada pertanyaan besar dari para ahli sejarah, apa yang melatarbelakangi Rasulullah mengambil keputusan tersebut. Ternyata, keputusan Rasulullah ini terisnpirasi dari kisah Ashabul Kahfi yaitu cerita tujuh orang pemuda yang memutuskan untuk hijrah karena negerinya dipimpin seorang yang zalim. Kisah Ashabul Kahfi tersendiri telah terabadikan dengan baik dalam al quran.

Jika kita membaca asbabun nuzul-nya, turunnya surat Al Kahfi adalah ketika ummat ini dalam kondisi terburuknya. Itulah mengapa? Kita disunnahkan membaca surat ini setiap Jumat tiba. Rasulullah mengingat baik cerita ini, hingga kemudian menjadi dasar keputusannya ketika itu.

Begitu pula saat peristiwa Fathu Mekkah. Ketika di tangan Rasulullah telah ada 19 nama para pembesar Qurais. Nama-nama tersebut telah ditetapkan Rasulullah sebagai sekelompok orang yang halal darahnya. Orang-orang ini, adalah mereka yang paling besar makarnya terhadap Rasulullah ketika di Mekkah dulu. Merindinglah para pemilik nama ini ketika mereka berbaris kaku, sementara  di hadapan mereka telah berdiri dengan gagahnya Rasulullah di pintu Ka’bah.

“Kira-kira apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?” Pertanyaan Rasulullah tersebut justru membuat mereka kian bergidik. Tapi perhatikanlah apa yang diucapkan Rasulullah selanjutnya ketika itu. “Bahwa hari ini kalian semua aku maafkan,” setiap kata kemaafan itu terucap dengan santun.

IMG_20160327_200051_AO_HDR.jpg

Lantas apa yang menginspirasi Rasulullah ketika itu untuk memaafkan para pembuat makar ini. Ternyata, ada kisah masa lalu yang menjadi panutan Rasulullah yaitu kisah Nabi Yusuf terhadap saudaranya. Kisah bagaimana Nabi Yusuf dengan penuh kerelaan, memaafkan kejahatan atas konspirasi besar mereka yang telah menjadikan Nabi Yusuf berada di dalam sumur. Cerita ini juga telah terabadikan secara indah di dalam Al  quran pada akhir-akhir surat Yusuf.

“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para Penyayang,” (Q.S Yusuf: 92)

Begitulah, sejarah telah menjadikan Rasulullah seorang pemimpin yang bijaksana. Rasulullah menjadikan sejarah sebagai panduan. Dan Al quran sendiri, sepertiga kurikulumnya adalah sejarah.  Cerita-cerita yang terdapat dalam Al quran adalah cerita yang benar. Maka, sebagai ummat yang beriman, sudah sepatutnya kita menjadikan al quran sebagai panduan hidup. Menyakininya sepenuh hati.

Mari menikmati sejarah 😀

Darussalam, 28 Maret 2016

Pukul: 10:55 WIB

 

Iklan