Sumber: ockym.blogspot.com
Sumber: ockym.blogspot.com

Saya sudah kian jenuh, ketika sang MC mengatakan bahwa acara selanjutnya adalah kata sambutan lagi. Namun kali ini, dari salah satu tokoh yang hadir di ruangan ini. Saya memainkan HP, mengecek foto-foto di Instagram untuk melenyapkan kebosanan. Arloji sudah menunjukan hari kian siang, namun acara ini belum juga memasuki intinya.

Saat sang tokoh pilihan itu menyampaikan pidato, tiba-tiba saja seorang di sebelah saya mengeluh kesal. “Kalau ada kata sambutan lagi, aku pulang!” Spontan saja, saya yang berada di dekatnya terkejut. Tapi keluhan itu juga menggoda saya untuk tersenyum lucu.

Ya, acara ini semestinya di-setting lebih menarik. Apalagi ini adalah seminar nasional yang menghadirkan mantan pejabat tinggi negeri ini. Nama besar beliau, mungkin saja menjadi daya tarik orang-orang untuk menghadiri acara ini. Tapi kemudian, saya bisa menebak bahwa banyak orang yang merasa kesal. Karena porsi waktu yang ada, lebih dominan acara ceremonial seperti bernyanyi dan tentu saja kata sambutan yang panjang.

Sementara acara utamanya yaitu ulasan menarik dari sang tokoh. Belum bisa dipastikan pukul berapa akan di mulai. Padahal saya sudah hadir di acara tersebut 30 menit dari yang telah dijadwalkan. Dan saya pun  maklum kalau acara mundur dari jadwal yang telah ditetapkan. Karena alasannya masih bisa diterima, sebab merupakan faktor eksternal dan telah menjadi masalah klasik negeri ini yaitu matee lampu.

Di akhir acara, saya menemukan kertas rundown kegiatan ini. Dan saya sedikit terkejut, karena ternyata masih ada satu lagi tokoh penting yang semestinya menyampaikan sambutan.

Saat itu saya berfikir sejenak. Semestinya kondisi seperti ini bisa membuat pihak panitia menjadi  lebih bijak. Mereka seharusnya tidak memaksakan acara berjalan sesuai rundown. Kondisinya memang sudah di luar dugaan, jadi sudah semestinya mereka berbesar hati untuk memangkas agenda yang bersifat ceremonial belaka.

Karena rasanya sangat tidak etis, jika harus memangkas porsi waktu sang pemateri utama demi menuntaskan agenda ceremonial itu. Saya merekam materi yang disampaikan sang tokoh, waktunya tak sampai dua puluh menit. Bayangkan, tokoh ini datang jauh-jauh dari ibu kota namun hanya menyampaikan materi yang begitu singkat.

Hal positifnya, acara ini gratis sehingga orang mungkin saja merasa kecewa namun tidak terlalu menyakitkan. Coba bayangkan, jika acara tersebut berbayar dengan harga tiket yang lumayan, karena pematerinya adalah tokoh nasional. Tentu saja kekecewaan orang bisa berlipat ganda.

Peserta bisa saja merasa ditipu, sebab mereka membayar mahal untuk menyaksikan sang tokoh utama bukan ceremonial panitia. Sebab cerita seperti ini, pernah juga saya alami. Sampai ada peserta yang memutuskan untuk pulang karena sudah tak sabar, bahkan ada yang menyampaikan keluhannya saat sesi tanya jawab.

Mungkin ini bisa menjadi cerminan, bagi siapapun yang ingin membuat sebuah kegiatan. Kita jelas harus membedakan mana acara utama dan acara seremonial. Bukan tidak boleh menyajikan hiburan dalam sebuah acara, hanya saja kita juga harus cerdas dalam mengambil porsinya. Sehingga yang awalnya kita niatkan menjadi hiburan, benar-benar menjadi penghibur. Bukan malah berbalik arah atau menjadikan suasana kian menjenuhkan.

Ulee Kareng, 29 Maret 2016

Pukul 23:08 WIB.

*dalam seruputan jus Kiwi

 

Iklan