72201_545974132079713_878348191_nHari itu, rabu tepatnya 20 ramadhan, saat semua orang telah bersiap-siap untuk berbuka. Di hari yang penuh keberkahan itu, seorang ibu hamil mengerang kesakitan, bayi di dalam kandungannya mulai tak sabar untuk segera menghirup udara dunia, seolah memaksa untuk ikut berbuka bersama.

SuasanaΒ  berbuka pun terusik, keluarga itu panik. Ayah bayi itu pun segera mengayuh sepeda tuanya untuk pergi memanggil bidan kampung. Terseok-seok melawati jalan berdebu, tak menghiraukan orang-orang yang menyapanya, dalam pikirannya hanya satu, nasib sang bayi dalam kandungan istrinya. Suara orang mengaji di mesjid Mifathul Jannah masih terdengar sayup-sayup.

Waktu berbuka tinggal beberapa menit lagi, sang ibu semakin merintih kesakitan, keringat bercucuran di wajahnya, tak berapa lama sang Ayahpun tiba bersama bidan kampung. Nafasnya masih tersenggal-senggal. Lalu di bawalah ibu itu di sebuah kamar, sang ayah menunggu di luar tak dizinkan masuk. Hatinya gelisah, kecemasan menyelimuti relung hatinya, Ia hanya bisa berdoa semoga anaknya bisa lahir dengan selamat bergitu juga dengan istrinya.

Hari semakin senja, suara orang mengaji mulai berhenti. Tak berapa lama di rumah sederhana itu suara tangispun pecah, beriringan dengan suara azan di mesjid Miftahul Jannah. Menadakan telah lahir ke dunia seorang bayi lelaki. Air mata bahagia tak mampu dibendung sang Ayah kalimat tahmid berulang kali dilafadzkannya Sang ayah mengumandankan Azan di telinga kanan anaknya itu, terselip doa yang mulia di hati. Semoga ia menjadi anak yang berbakti.

Sang ayah begitu mencintai anak ini, setiap sore ia selalu membawa anaknya pergi mandi ke sungai dengan sepeda tuanya, sang anak Ia dudukan di belakang, kakinya diikat agar tak terkena jari-jari sepeda. Bila rambutnya telah panjang maka ia akan membawa anaknya ke tukang pangkas, meminta tukang pangkas untuk memotong rambutnya dengan rapi. Setelah itu mengajaknya jalan-jalan ke pasar, menyuruh sang anak untuk memilih ikan yang disukainya.

Demikian juga sang ibu, tak kurang sayangnya pada sang anak. Diajarkannya sang anak mengaji agar Ia kenal ilmu agama, bila anaknya sakit Ia tidak akan pergi membantu suaminya menggerus pohon karet, Ia akan setia menjaga sang anak. Dalam doanya Ia selalu bermunajat agar kelak anaknya bisa menjadi anak yang sholeh dan bermanfaat bagi orang lain. Walau dalam keadaan letih ia selalu menyisakan senyumnya untuk sang anak. Menyembunyikan keletihannya.

Kini, sang anak telah tumbuh mejadi remaja, Ia pergi jauh meninggalkan ayah dan ibunya untuk satu tujuan mulia, menuntut ilmu. Ayah dan ibunya hanya bisa mewujudkan cintanya dalam doa, setiap untaian doa mereka adalah bait-bait cinta yang mulia, cinta yang tak pernah putus

Kawan, anak itu adalah aku, dadaku sesak bila mengenang semua ini, membuatku tak kuasa menahan rasa rindu. Setiap lebaran kami bertemu namun setiap harinya aku merindukan mereka, ayah dan ibu sungguh aku merindukan kalian, rindu sekali.

 

 

Iklan