Cari

Narasi Kearifan

Pada hidup yang sebentar, menjadi berarti adalah mutlak

Kategori

Catatan Jiwa

I Want Go To London

DSC02717

Minggu malam saya bela-belain gak tidur sebelum pukul 12 malam. Malam itu, adalah hari terakhir bursa transfer premier league. Sebagai fans Arsenal saya berdebar apakah di menit-menit akhir transfer ini Arsene Wenger akan membeli striker baru. Mengingat, pada musim lalu Arsenal membeli pemain pada window transfer seperti ini.
Di lini masa fanspage Arsenal, orang-orang juga pada heboh. Sama seperti saya, mereka juga berdebar menunggu siapa kira-kira pemain baru yang akan diboyong ke Emirates Stadium. Mereka terus menduga-duga, beberapa pemain bintang santer terdengar akan berseragam The Gunners.
Continue reading “I Want Go To London”

Gondi-Gondi Amanullah

IMG_1531Yasharmizal menarik tangan saya. Anak kecil itu tampak tergesa-gesa. Kami keluar dari gedung, lalu berlari menuju tempat penjual mainan. Dengan wajah mengiba, ia menunjuk sebuah pesawat mainan yang digantung. Meskipun saya tak mengerti bahasanya. Tapi saya mengerti apa yang ia maksud. Saya terdiam. Sebenarnya bukan saya tidak ingin membelikan pesawat mainan itu untuknya, hanya saja saya bersama relawan sudah membawa banyak mainan untuk anak-anak Rohingnya ini.

Continue reading “Gondi-Gondi Amanullah”

Dua Doa di Ibu Kota

DSC_0438Harus saya akui, saat ini saya rindu Jakarta. Kota besar itu telah memberikan kesan tersendiri di hati saya. Jakarta denga wajahnya yang sering dicitrakan tak ramah. Ternyata berhasil menarik simpati saya sebagai seorang anak kampung.

Saya di Jakarta hampir dua tahun. selama itu, tentu saja ada banyak cerita yang saya alami. Saya ingat, sebelum berangkat ke Jakarta saya punya doa yang sederhana. Saya memohon kepada Allah, agar setibanya di sana nanti. Tempat tinggal saya tidak jauh dari dua hal. Masjid dan rumah makan Padang.
Continue reading “Dua Doa di Ibu Kota”

Antusiasme Pertemanan

IMG_20150417_133027Tempo hari seorang teman lama mengajak saya bertemu. Hampir tiga tahun kami berpisah. Selama ini, interaksi kami hanya di dunia maya. Setiap komunikasi selalu berjalan hangat. Mengetahui saya telah berada di Banda Aceh, ia pun segera mengatur pertemuan.

Saya sendiri sangat antusias dengan janji tersebut. Lama tak berjumpa, tentu ada banyak hal menarik yang dibicarakan. Paling tidak kami bisa bertukar pengalaman atau menertawakan cerita-cerita masa lalu. Kami bertemu di sebuah warung kopi di pusat kota Banda Aceh. Saya datang sesuai dengan waktu yang telah disepakati. HP saya berdering, ia mengabarkan kalau dirinya datang terlambat. Baiklah, saya memaklumi itu.
Continue reading “Antusiasme Pertemanan”

Berhentilah Membandingkan

IMG_0860Dalam sebuah perbincangan, seorang teman mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan kepada saya. “Kamu enak ya hidupnya, senang terus.” Saya merasa ungkapan itu terlalu berlebihan. Lalu saya mengatakan kepadanya, “saya juga manusia, pernah sedih. Tapi, apakah setiap kesedihan harus dikabarkan”.

Continue reading “Berhentilah Membandingkan”

Tiga Jasa Besar Ibu

366270_origPernah suatu kali Rasulullah ditanya seseorang, “Ya Rasulullah, siapa orang yang paling berhak aku beri perlakuan yang baik?” Lalu Rasulullah menjawab, “Ibumu!”. Lelaki ini bertanya lagi, “Setelahnya siapa Rasulullah?” Kembali Rasulullah menjawab, “Ibumu!”. Untuk kali ketiganya jawaban Rasulullah tetap sama, “Ibumu!”. Sebenarnya, lelaki ini ingin tahu siapa orang setelah ibu yang paling berhak untuk diberi perlakuan baik. Barulah kali keempat, Rasulullah menjawab, “Ayahmu!”.

Kita tentu telah sering mendengar cerita ini. Mengapa Rasulullah harus mengulang sosok ibu sampai tiga kali? Alasanya adalah, karena ibu punya tiga jasa besar yang tidak bisa digantikan oleh siapapun, termasuk seorang ayah. Dalam surat Luqman Allah sudah ungkapkan ini, tapi yang paling tegas adalah surat al Ahqaf ayat 15 :
Continue reading “Tiga Jasa Besar Ibu”

Tak Ada Kesempatan Emas

1899521_598912286858253_1362801693_o

Sudah terlalu sering melewatkan kesempatan emas. Dan kini, batin saya pun berbisik. Sebenarnya, apa itu  kesempatan emas? Apakah kesempatan yang langsung merubah hidup kita menjadi lebih baik begitu kita mengambilnya. Atau kepayahan-kepayahan yang terus kita lalui hingga menemukan jalan terang.

Saya harus berhenti mencari definisi dari “Kesempatan emas” ini. saya harus tegak dengan sebuah keyakinan sederhana saja, bahwa kesuksesan hidup itu harus diupayakan. Saya harus berhenti dengan pemahaman akan selalu ada keberuntungan bila kita setia menanti. Berhenti, saya harus berhenti dengan pemahaman buruk seperti itu.

Welcome to December…  Mari kita nikmati tantangan berikutnya…!

Darussalam, 01 Desember 2014

Pukul: 11:24 WIB

Pernah Sekali Begitu Tak Berdaya

IMG_1693

Pernah sekali merasakan begitu tak berdaya. Ketika itu tengah menuju puncak Rinjani yang masih entah. Awan putih menutupi puncaknya. Tak ada yang bisa menebak dengan pasti. Berapa jauh lagi kaki ini harus melangkah. Pada bayang-bayang keputusasaan itu, godaan untuk meredupkan tekad kian kuat. Pagi itu, menyaksikan sendiri bukan hanya diri ini yang kelelahan. Ada banyak pendaki lain yang juga tak berdaya. Sebagian melanjutkan, namun ada pula yang kembali turun.

Continue reading “Pernah Sekali Begitu Tak Berdaya”

Aku Bukan Totto Chan

totto-chan-back-green

Tidur siang kali ini saya mimpi bertemu SBY. Ia datang mengunjungi kampung kami. Aku begitu dekat dengannya, mengikutinya dari belakang. Lalu tiba-tiba ia berkata, “Apakah di kampung ini ada laptop? Aku membutuhkannya”.
“Aku punya!” Aku spontan menjawab, lalu bergegas pulang ke rumah untuk mengambil laptop.
“Maaf aku terlambat, kau tidak marah padakukan. Aku akan membantumu sebisaku” ucapku sambil menyerahkan laptop iitu.
“Terima kasih, kau anak yang baik” SBY tersenyum.

Continue reading “Aku Bukan Totto Chan”

Yang Istimewa dari Ramadhan kita kali ini…

IMG_0285
Marhaban ya Ramadhan…
Bulan agung itu kembali mengahampiri kita. Rindu yang sekian lama pun menemukan penawarnya. Ramadhan adalah kemulian di atas kemuliaan. Rindu dari segala rindu. Maka pada Ramadhan, sabitnya adalah gairah. Purnamanya adalah ujian, dan hari-hari setelahnya adalah pembuktian benar tidaknya rasa rindu kita ini.
Continue reading “Yang Istimewa dari Ramadhan kita kali ini…”

Sebab Dunia Menyambutmu…

???????????????????????????????

Kau yang tengah membaca ini, renungkanlah. Bila jiwamu adalah sepotong jiwa yang rapuh. Yang berulang kali melakukan keliru. Maka kini dengarkanlah, apa yang semestinya kau dengar. Benamkanlah kalimat ini baik-baik dalam dirimu sendiri.

Bila kau mengharapkan masa depan yang baik. Maka pilihlah kegiatan-kegiatan yang menumbuhkan. Yang membuatmu dekat pada impian. Kita tidak mungkin lagi berleha-leha. Lihatlah, betapa banyak waktu yang terbuang. Hidup ini akan terus berlanjut. Kau diam, waktu akan membunuhmu. Hat-hati terhadap jebakkan waktu.

Mulailah menggerakkan dirimu. Semakin sulit tantangan ke depan menandakan kau akan menjadi besar. Maka melewatinya kau butuh kekuatan yang besar. Dan kekuatan itu hanya akan tumbuh bila tekadmu juga besar. Maka, bila kau redupkan sumber energi itu kau akan terjatuh dan lenyap dari pentas perjuangan.

Continue reading “Sebab Dunia Menyambutmu…”

Jiwa, Temukanlah Keberartian Itu!

IMG_3228Jiwa dengarkan ini sejenak. Tentang desahmu yang tak lagi benar. Hingga sesuatu yang biasa saja mulanya, menjadi masalah setiap kali kau cerna. Jiwa, genggamlah kembali ruas kebaikkan yang Tuhan kenalkan. Dalam banyak cerita yang tak kau mengerti, teguhlah untuk tetap berpijak pada ruas-ruas kebaikkan itu.

*
Inilah pilihanmu yang paling baik, dari segenap tawaran dunia yang melenakan. Tak mudah memang, menjaga apa yang telah kau yakini. Melindunginya dengan dayamu yang terbatas. Sebab setiap harinya, selalu ada yang memberi pengaruh padamu. Bila kau tak awas! Pengaruh itu bisa meruntuhkan rasa yakinmu.

Continue reading “Jiwa, Temukanlah Keberartian Itu!”

Hujan Di Penghujung Oktober

Paper-Boats-Rain-1920x1080

Hujan turun di pengujung oktober….

Menaburkan jutaan puisi. Sebagian di simpan untuk hati yang luka. Menjadi penawar untuk resah yang tak kunjung punah. Sebagian lagi disiapkan untuk cerita yang paling bahagia. Pada desisnya yang sering kali mengundang rindu, ada pula yang diam-diam menguatkan doanya. Tersudut di bilik sunyi. Menanti masa, kapan kiranya sepotong rindunya berhenti berdengung. Kehendak sunyinya segera menjadi cerita penuh puisi.

Hujan di penghujung Oktober…

Sebagian  bulir-bulirnya melekat di jendela. Meninggalkan cerita untuk di kenang. Sebagian lagi lembut jatuh mencium tanah. Pasrah pada takdir yang telah digiring Tuhan dari langit sana. Terkadang  setelah redanya, pada langit yang merona di siram cahaya. Tuhan goreskan pelangi. melengkung indah penuh cinta. Mengisyaratkan agar setiap pribadi segera memilih warna rindunya.

Pada Hujan di Penghujung Oktober, aku kembali meredam rindu di sini. Bersabar menanti redanya di balik jendela. Sebelum memilih satu dari sekian warna pelangi.

Ruang Redaksi, 28 Oktober 2013

Ketika rinai,  jatuh di ujung senja.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑