Cari

Narasi Kearifan

Pada hidup yang sebentar, menjadi berarti adalah mutlak

Kategori

Cerpen

Undangan Tarmizi

10
Kalau saja yang mengundang bukan Tarmizi, tentu Karim tak akan datang. Karena Baginya, Tarmizi lebih dari sekadar sahabat. Lama mereka hidup bersama. Susah senang mereka sejiwa. Kalau memakai istilah, tidur pun sebantal. Rasanya itu sudah cukup menggambarkan, bahwa persahabatan Karim dan Tarmizi seperti getah karet glasi di kebun-kebun PTPN sana, lekat sekali.
Di letakkan Tarmizi undangan itu begitu saja di meja kopi. Karim yang tengah menyeruput kopi pancung, hampir tersedak membaca barisan nama di undangan tersebut. Tarmizi Hanafi dan Rosmala Putri. Maka, meski tanpa harus membukanya terlebih dahulu. Karim terang saja bisa menebak, bahwa undangan berwarna ungu itu adalah undangan yang kerap diterimanya akhir-akhir ini di bulan Syaban. Undangan yang tanpa tega mencabik-cabik hatinya sebagai seorang lajang untuk masa berlaku yang entah. Untuk menghormati perasaan Karim ini kawan, maka tak perlulah aku menyebutkan lebih lanjut rupa undangan tersebut.
Continue reading “Undangan Tarmizi”

Iklan

Seranum Taman Hati

Wallpaper-Bunga-Daisy
Rosela yang kuseduh setiap pagi itu kupetik dari pot-pot kecil di halaman rumahku sendiri. Halaman rumah kami memang tak terlalu luas, tapi aku senang karena semua tertata dengan rapi. Bermacam bunga juga ada di sana. Mawar, chrysant, dan bunga lainnya yang tak begitu kukenal. Bila mekar semerbaknya harum sekali.

Kata ibu, ayahlah yang menata bunga-bunga di taman ini. Beberapa bunga itu ada yang ayah petik sendiri di kaki bukit belakang rumah kami. Ia mengerjakannya sendiri saat ibu mengandungku. Rasanya istemewa sekali, karena Ayah menyiapkan semua ini untuk menyambut kelahiranku.
Ayah telah menghitung hari. Ia berulang kali menanyakan kepada bidan kapan aku akan lahir. Lalu ayah mengira-ngira, mengukur waktu sedemikian rupa, agar aku lahir tepat saat bunga-bunga di taman ini mekar.
Continue reading “Seranum Taman Hati”

Percayalah Kepada Ibumu

Bibi, mengapa dia digendong seperti itu. Apakah ia sakit? Perempuan paruh baya itu hanya diam, ia sibuk menyelesaikan pekerjaannya.

“Apakah kau nyaman di sana?” Aku bertanya begitu karena ia terus diam sedari tadi.

“Oh ya, aku punya buah apel untukmu, kau mau?” Mata anak kecil itu berbinar.

Tapi sepertinya kau tidak bisa mengambilnya. Oh, baiklah kau tak usah khawatir aku akan mengupasnya untukmu. Lalu aku mengupas buah apel itu dengan pisau, lalu mengirisnya dengan potongan-potongan kecil.

IMG_3453

“Makanlah, rasanya manis” aku menyodorkan satu potongan kecil apel ke mulutnya.

Continue reading “Percayalah Kepada Ibumu”

Rahasia Kecil Kita


1016173_570672886348860_949853377_n

Aku masih ingat rahasia kecil itu. Rahasia yang sebenarnya tak ingin kukenang. Kau sendiri membisikkanya di suatu siang. Saat
ibu-ibu kita sedang berdiri di bawah terik untuk mengambil air. Mereka berbaris-baris di sebuah sumur. Setelah sebelumnya berjalan berkilo-kilo meter hanya untuk sampai di sumber air itu.

Sudah beberapa bulan ini kampung kita kemarau. Maka hari itu, mendengar rahasiamu menjadi semacam hiburan dalam hatiku. Paling tidak mengalihkan perhatianku dari gerutuan orang-orang kampung yang terus mengeluh pada sesuatu yang tidak kita pahami.

Continue reading “Rahasia Kecil Kita”

Doa untuk Sang Muazin

Suatu subuh di awal Juli

Langit Banda bertabur bintang, bak butiran permata yang ditaburkan Tuhan begitu saja. Sinarnya mengerjap-ngerjap nun jauh di berdoa (1)langit sana. Gemintang itu seakan mengisyaratkan cemburu pada  penguhuni bumi,  yang menjelang subuh ini telah basah wajahnya terbasuh wudhu, lalu  menegakkan shalat malam mereka yang panjang.

Bagaimana tak cemburu, sebab setelah itu, kala insan yang lain masih terlelap, mereka bersiap-siap menyambut seruan yang Maha Cinta. Melangkahkan kakinya setapak demi setapak menuju mesjid. Tak peduli meskipun tubuhnya terhujam sejuk yang tak terkira. Cinta Tuhan telah membuat jiwa mereka hangat.

Continue reading “Doa untuk Sang Muazin”

Menanti Delias

Beginilah caraku menikmati pagi.  Aku menyeruput secangkir rosela hangat kupu-kupu-321sambil menanti Delias. Kupu-kupu cantik yang selalu datang di taman bungaku. Tamannya tak begitu luas, akan tetapi beragam bunga ada di sana. Rasanya damai sekali. Melihat Delias menjenguk kuntum-kuntum bunga. Satu persatu. Mana kala bulir-bulir embun masih bergelantungan di setiap ujung daunnya.

 Delias memiliki sayap yang indah, kuning keemasan. Disisipi bercak-bercak hitam yang simetris. Delias adalah kupu-kupu cantik yang menyimpan pesona dalam kesederhanaan. Lihatlah, warna sayapnya memang tak merona. Akan tetapi, tanpa hadirnya, mungkin saja aku tak bisa menikmati  indahnya beragam kuntum yang mekar.

Continue reading “Menanti Delias”

Lelaki Penggenggam Purnama

nelayan

Ayahku ada di sana. Nun jauh di tengah laut. Bertarung melawan angin, bercanda dengan ombak. Menggigil diterkam dingin. Ayah pergi untuk menjemput rizki Tuhan. Menunaikan kewajibannya sebagai ayah yang sebenar-benarnya ayah.

Maka aku akan tetap di sini, menanti ayah. Setelah ia bertarung melawan rasa takutnya di tengah laut sana, aku ingin orang yang pertama kali dilihatnya adalah aku. Anaknya. Dan aku ingin meluruhkan segala letihnya dengan sebaris senyumku. Karenanya, aku tak peduli bila ayah pulang membawa ikan atau tidak. Lelaki paruh baya itu, telah memberikan segalanya.

Continue reading “Lelaki Penggenggam Purnama”

Sabit Menusuk Pilu

bulan sabit

Hati siapa yang tak luluh. Bila jiwanya tersapa oleh seseorang yang pribadinya seranum dirimu. Aku memang tak mengenalmu dengan purna. Namun semua telinga telah tegak.  Kau adalah sosok idaman dari siapa pun yang mengharapkan masa depan yang baik. pesonamu, telah membuat para bujang hari-harinya diterkam cemburu.

Dan aku, ah, pantaskah pula cemburu. Saat kau menabur senyum pada dara yang siap dipinang. Membuat wajah mereka berseri-seri, padahal kau belum melempar sebaris kata pun. Lagi-lagi aku hanya bisa mengulum senyum pahit. Mengukur diri. Ah, siapalah diriku ini? Anak tertua yang harus berjuang untuk keluarga. Tak punya waktu cukup untuk berdandan seperti gadis lainnya.

Continue reading “Sabit Menusuk Pilu”

Surat Terkahir Yusuf

Tak pernah-pernah rumahku kedatangan tukang pos. Sore ini saat aku dan ayah sedang duduk di serambi rumah, seorang lelaki berseragam coklat mengejutkan kami. Tampilannya rapi. Ia datang dengan menggunakan sepeda motor berwarna orange. Ada dua buah kantong besar bergantung di jok sepeda motornya. Ia menghampiri kami, dan dengan santunnya sepucuk surat ia berikan kepada ayah.
“maaf pak, terima kasih. Saya harus buru-buru” ucapnya dengan senyum. Ketika ayah memintanya untuk masuk dulu ke rumah.
Lalu ia menyodorkan tanda terima kepada ayah. Tiba-tiba tersirat raut muka yang lain dari wajah ayah. Ah, aku paham. Ayah tak bisa menulis. Seketika kuraih buku tanda terima itu dari tangan ayah. aku pun membubuhkan tanda tanganku di bukunya.
“Terima kasih” ucapnya, dengan sopan lelaki berseragam itu pun mohon pamit.
Hatiku berdebar karena ternyata surat itu datang dari negeri nun jauh di sana, Belanda. Continue reading “Surat Terkahir Yusuf”

Amplop Terakhir Yusuf

“Ayah..! ini ada amplop dari Belanda. tebal isinya”

Continue reading “Amplop Terakhir Yusuf”

Lelaki Penembus Hujan

Aku tak mungkin menyalahkan Tuhan. Karena dengan izinNya langit menjadi kelabu. Dengan kuasaNya pula Ia hentakkan gundala di setiap penjuru langit. Lalu, satu persatu jutaan cintaNya jatuh menghujam bumi. Di bawah sebatang akasia aku terperangkap, sebab hujan tak kunjung reda. Tubuhku menggigil akibat mendekap erat sebuah janji. Segenggam kata yang telah kita ikrarkan kala senja tempo hari.

Continue reading “Lelaki Penembus Hujan”

Tembang Terakhirku

Nasib memang selalu begitu mengejutkan, tanpa sadar ternyata selama ini ia mengintaiku. Mengintip dari balik jendela, mengendap-ngendap di bawah meja lalu menyergapku di ruangan kelas. Aku tekapar.

Aku dan beberpa personil grup nasyid Ikhwanul muslimin, sedang serius merancang konsep baru untuk tampil maulid Nabi minggu depan nanti. Kami ingin menampilkan konsep yang berbeda untuk penampilan kali ini, lain dari yang lain. Di ruangan kelas ini, semua sibuk bersilang pendapat, masing-masing punya argumen sendiri untuk konsep baru itu. Sedangkan diriku seperti kucing kekenyangan, terkantuk-kantuk mendengarkan perdebatan mereka. Kehadiranku dalam diskusi ini hanya pelengkap saja, tak lebih dari itu.

Continue reading “Tembang Terakhirku”

Amanat Presiden

(bongkar2 file lama ketemu cerpen pertamaku, yg d tulis kala terkagum2 dengan andrea hirata) 😀

Namaku terlalu panjang bila dilekatkan nama ayahku didepannya, Ibtami atau Ibrahim Tamiang. Padahal hampir semua saudaraku mengenakan nama itu, memang ada kebanggaan tersendiri saat nama kita berdampingan dengan nama orang tua. Namun konsekuensinya, kita tidak hanya bertanggung jawab menjaga nama baik sendiri, tapi selalu berupaya agar nama baik orang tua tidak tercemar. Aku sangat tidak ingin nama ayahku disebut – sebut karena kecerobohanku sendiri. Misalnya, Anak pak Ibrahim tertangkap mencuri ayam, Sungguh buruk kedengarannya.
Continue reading “Amanat Presiden”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑