Cari

Narasi Kearifan

Pada hidup yang sebentar, menjadi berarti adalah mutlak

Kategori

Liputan Anak Kampung

Inspirasi Keputusan Besar Rasulullah

IMG_20160327_192122_AO_HDR.jpg

Ini adalah intisari dari tausyiah Ustad Budi Ashari, Lc saat mengisi kajian di Masjid Agung Al Makmur lepas Maghrib semalam. Saya berada di sana, mencoba untuk meresapinya sebaik mungkin. Selamat menikmati 🙂

Dalam sejarah kenabian, kita selalu menemukan cerita bagaimana Rasulullah selalu tepat dalam mengambil sebuah keputusan. Bahkan dalam kondisi yang sangat pelik sekali pun, Rasulullah tetap dapat mengambil keputusan dengan baik. Ternyata, ada inspirasi besar yang selalu tertanam dalam benak Rasulullah. Inspirasi itu adalah sejarah masa lalu dari ummat-ummat terdahulu.

Continue reading “Inspirasi Keputusan Besar Rasulullah”

Gondi-Gondi Amanullah

IMG_1531Yasharmizal menarik tangan saya. Anak kecil itu tampak tergesa-gesa. Kami keluar dari gedung, lalu berlari menuju tempat penjual mainan. Dengan wajah mengiba, ia menunjuk sebuah pesawat mainan yang digantung. Meskipun saya tak mengerti bahasanya. Tapi saya mengerti apa yang ia maksud. Saya terdiam. Sebenarnya bukan saya tidak ingin membelikan pesawat mainan itu untuknya, hanya saja saya bersama relawan sudah membawa banyak mainan untuk anak-anak Rohingnya ini.

Continue reading “Gondi-Gondi Amanullah”

Merasakan Indonesia dari Titik Nol

Di ujung paling barat Indonesia, tugu Kilometer Nol berdiri. Tegak mempertegas kedaulatan kita sebagai sebuah negara. Kokoh mengikat kemajemukan kita sebagai bangsa.

IMG_9364
Berdirilah di tugu Kilometer Nol, lalu rentangklanlah tangan kita di sana. Rasakan angin laut Andaman dan deru ombak Samudra India. Dengarkan hempasan ombak Selat Melaka yang menghantam tebing. Saat kita berdiri di sana, di titik paling barat Indonesia ini, kita serasa berdiri di ujung sebuah kapal besar bernama Indonesia. Bak Leonardo de Caprio yang berdiri di ujung kapal Titanic, begitulah. Rasa bangga dan haru bercampur menjadi satu. Di titik Kilometer, kita bisa merasakan Indonesia dengan sensasi yang berbeda.
Continue reading “Merasakan Indonesia dari Titik Nol”

Mengenang Hamka di Rumahnya

Maninjau adalah danau yang indah. Berada di sini serasa waktu berjalan lambat, karena semuanya tampak begitu DSC_0591tenang. Padi-padi yang mulai menguning di tepi Danau Maninjau, meneduhkan pandangan. Udaranya yang sejuk membuat segalanya begitu syahdu. Soekarno Sendiri pernah mengungkapkan keindahan Maninjau ini dalam sebuah pantun: “Jika Adik Memakan Pinang/Makanlah dengan Sirih yang Hijau/JIka Adik Datang ke Minang/Jangan Lupa Datang ke Maninjau”.
Tapi sebenarnya, bukan hanya karena danaunya saja Maninjau dikenal. Tapi di tanah ini pernah lahir sosok ulama sekaligus politisi yang mewarisi begitu banyak keteladanan. Ialah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, dan bangsa ini mengenangnya dengan sebutan Hamka. Di sinilah Hamka lahir, di Kampung Molek Maninjau, Sumatera Barat.
Continue reading “Mengenang Hamka di Rumahnya”

Jejak Juang Tentara Perempuan Aceh

???????????????????????????????

Cahaya senja menyiram batu-batu kusam di tepian jurang itu. Bebatuan tersebut tampak kokoh.  Erat satu sama lain. Sebuah akar kayu menghujam di sela-selanya. Di hadapannya, membentang laut Krueng Raya yang tenang. Ratusan tahun lalu, di laut yang tenang itu bak panggung yang mementaskan betapa heroiknya perempuan Aceh melawan penjajah. Mereka berjibaku melawan tirani di tengah laut. Kapala-kapal Belanda pernah hangus terbakar. Seorang Jendralnya tewas tertikam rencong.

Inilah Benteng Inong Balee, saksi bisu tentang ketangguhan perempuan Aceh masa silam. Benteng yang menjadi basis sekitar 2000 tentara perempuan Aceh yang rela syahid melawan penjajah. Tentara ini disebut Inong Balee, yang artinya adalah perempuan Janda. Karena mereka adalah para perempuan yang suaminya syahid dalam peperangan. Meskipun perempuan, tentara Inong Balee ini telah berulang kali terlibat dalam pertempuran sengit. Seperti, pertempuran di Selat Malaka, Pantai Timur Sumatera hingga ke Malaya.

Continue reading “Jejak Juang Tentara Perempuan Aceh”

Pesona Melayu di mesjid Al Azizi

Cahaya matahari pecah di kubah mesjid Al Azizi, Tanjung Pura. Warna bangunannya yang kuning keemasan menjadi kian merona. Siang itu matahari memang sedang teriknya. Setelah menempuh 2 jam perjalanan dari Medan saya turun dari Jumbo (nama angkutan Medan – Aceh), seketika itu pula saya disergap kekaguman yang tak terkira. Di hadapan saya mesjid Al Azizi berdiri dengan megahnya. Pagarnya yang luas seolah hendak memeluk siapa pun. Tunai juga mimpi itu, saya bergumam. Lalu meraih sebuah notes kecil, melingkari resolusi no 18 dalam hidup saya.
Continue reading “Pesona Melayu di mesjid Al Azizi”

Tantangan Islamisasi Pendidikan

Salah satu perbedaan mendasar antara pendidikan islami dengan konsep pendidikan sekuler adalah out put akhirnya. Bila dalam pendidikan islami tujuan akhirnya adalah membentuk insan yang fikir dan dzikir, yaitu pribadi yang tidak hanya cerdas secara intlektual namun juga memiliki kecerdasan sipiritual. Sedangkan konsep pendidikan sekuler tujuan akhirnya adalah, hanya untuk membentuk pribadi yang cerdas secara intlektual saja. Seperti yang diungkapkan Dekan Fakultas MIPA Unsyiah, Dr.Mustanir,M,Sc bahwa inilah yang menjadi keistimewaan tersendiri dalam pendidikan islam.

“kita tidak menemukan out put seperti ini dalam konsep pendidikan sekuler” ungkapnya.
Continue reading “Tantangan Islamisasi Pendidikan”

Gerilya Sie Itek

Salah satu makanan khas Aceh adalah sie itek (nasi bebek). Di Banda Aceh saya punya beberapa tempat favorit untuk makan sie itek. Yang pertama di kawasan Ulee kareng, tepatnya di simpang tujuh. Namanya nasi bebek Mona, lokasinya di sekitar penjual rempah-rempah. yang khas di sini adalah daging bebeknya yang empuk, mungkin karena menggunakan bebek muda. Aroma karinya juga lumayan menggoda, bumbunya meresap hingga ke serat-serat daging bebek.
Continue reading “Gerilya Sie Itek”

Jangan Takut Jadi Pendonor

Badan bugar, daya tahan tubuh kuat adalah manfaat lain yang dirasakan Rahmat Aulia dari donor darah. Mahasiswa MIPA fisika angkatan 2005 ini adalah pendonor darah yang aktif. Ia sampai tak ingat lagi sudah berapa kali melakukaan donor. “saya tak tahu pasti, yang tercatat ada 5 kali, selebihnya ngak ingat” jawabnya saat ditanya berapa kali telah melakukan donor.

Continue reading “Jangan Takut Jadi Pendonor”

Revolusi Jenaka Ala Pepeng

ketika kami datang Pepeng memecet sebuah tombol kecil di sisi kiri tempat tidurnya. Secara otomatis kasur tempatnya berbaring itu pun terangkat bagian atasnya. Mengetahui kehadiran kami Pepeng tersenyum.

“jari-jari…!” ucap kami.

Ia kembali sumeringah. Pepeng tinggal di sebuah Apartemen, karena rumahnya yang di Cinere sedang direnovasi. kami datang saat pepeng baru saja usai menunaikan shalat magrib. Lalu ia mengenakan kaca matanya, mencoba menyapa kami satu-persatu.

Continue reading “Revolusi Jenaka Ala Pepeng”

Ibnu Sang Pujangga

Tulisan profil ini ditulis oleh sahabatku Supendi (Pemimpin redaksi) di lembaga pers mahasiswa Teknokra Universitas lampung. 🙂

oleh Supendi

Waktu masih pagi. Seusai salat shubuh, Ibnu bergegas menuju kamar. Dia merebahkan tubuhnya ke kasur. Diambilnya sebuah laptop hitam. Bantal disandarkan di dada. Handsfree terpasang di kedua telinga.

Jari-jari tanganya mulai menjamah keybord laptop. Sepasang mata tertuju ke monitor.
Saya menghampirinya.
“Lagi nulis puisi, Nu?”
“Oh nggak. Cuma nulis catatan kecil saja.”

Continue reading “Ibnu Sang Pujangga”

Teleju Undercover

Laporan langsung dari Teleju (kawasan prostitusi terbesar di Riau)

Asap rokok mengepul dari mulutnya, tangan kirinya asik dengan HP Samsung berwarna  putih. Sesekali Ia tertawa terbahak – bahak. Lalu, saat Aku datang mengahmpirinya. Ia terdiam  dipandanginya aku dengan sinis, wajahnya tak peduli. kemudian ia tertawa kembali.  Lama aku mematung, hingga akhirnya seorang wanita paruh baya datang, mengenakan baju merah, celananya hanya sebatas lutut, umurnya sekitar 35 tahun.

“ada apa ya” tanyanya.

“saya mahasiswa mbak, mau menulis tentang masyarakat Teleju ini” jelasku.

Kedua Wanita itu saling berpandangan, perempuan yang merokok tadi kembali mengepulkan asap rokoknya, wajahnya masih dingin.

“Mau nulis tentang apa, tulisan tentang ranjang atau apa” ujarnya.

Aku hanya tersenyum, meski batinku bergemuruh. Para PSK di Teleju ini memang sangat tertutup, mereka tidak mau berbicara dengan orang luar kalau bukan urusan “kesek – kesek”. Apalagi memberikan informasi tentang identitas dirinya, wanita paruh baya tadi yang sebut saja namanya Bety menjelaskan, bahwa para PSK di Teleju ini hanya mau melayani obrolan para tamu saja, obrolan itupun ada syaratnya. Bila tak ada kesepakatan, maka para tamu itu terpaksa diusir pergi.

Continue reading “Teleju Undercover”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑