Cari

Narasi Kearifan

Pada hidup yang sebentar, menjadi berarti adalah mutlak

Kategori

Sentuhan Hati

Meranumkan Iman dalam Ketidakpastian

1655859_732929826717475_1479953794_n

Nama lelaki itu Julaibib. Tubuhnya kerdil dan berkulit gelap. Hidupnya fakir dan berpenampilan tidak menarik. Ia adalah lelaki yang tidak bernasab. Sebab ketika lahir, Julaibib tidak tahu ayah dan ibunya. Bagi penduduk Yastrib ketika itu, hidup tanpa nasab adalah cacat sosial yang besar. Maka Julaibib adalah ironi dari segala ironi. Kondisinya yang demikian, sering kali membuat dirinya tak dianggap.
Hingga kemudian Allah berkehendak lain. Hidayah menyentuh lembut hatinya. Setelah itu, Julaibib adalah sosok yang selalu berada di shaf terdepan saat shalat maupun berjihad. Tapi penampilannya yang tidak menarik itu, tetap membuat sebagian orang tidak peduli padanya. Namun, tidak demikian pada Rasulullah. Suatu ketika Rasulullah menemui Julaibib yang saat itu tinggal di Shuffah Mesjid Nabawi.
Continue reading “Meranumkan Iman dalam Ketidakpastian”

Akar Penyebab Rusaknya Aqidah Umat

pohon-tua-1024x768

*Resume Tausyiah ba’da Zhuhur oleh Tgk Fakhruddin Lamuddin di Mesjid Jami Darussalam

Rentang masa antara nabi Adam dan nabi Nuh adalah 1000 tahun. Pada masa itu, umat dalam kondisi aqidah yang selamat. Lalu mengapa pada masa nabi Nuh aqidah umat mulai rusak? Apa sebenarnya yang terjadi pada masa itu. Para ahli sejarah dan tafsir telah mengkaji hal ini. Ternyata, penyebab rusaknya akidah umat nabi Nuh ketika itu adalah, cara yang salah dalam menyikapi ulama dan orang-orang shaleh. Mereka memperlakukan ulama ini secara berlebihan. Continue reading “Akar Penyebab Rusaknya Aqidah Umat”

Perilaku Ibu yang Layak Kita Tiru

1451403_546197088796440_1870961499_nMenjadi ibu berarti mewakafkan seluruh waktunya atas nama cinta. Memberikan ruang hatinya lebih banyak untuk memberi. Merelakan sejenak kehendaknya agar bisa merasakan bahagia bersama. Semua itu, adalah sisi malaikat dari seorang ibu,  yang tanpa kita sadari sering kali kita rasakan manfaatnya. Maka bagi setiap orang, ibu selalu menjadi kosa kata yang istimewa. Dan mengenang semua prilaku itu, membuat kita serasa tak berdaya. Sebagai manusia, yang Allah karuniakan perasaan. Semestinya kita bisa mengurai satu-satu keteladanan dari ibu itu, lalu membentuknya menjadi prilaku utuh kita.

Continue reading “Perilaku Ibu yang Layak Kita Tiru”

Bermula dari sebuah perasaan

tunas-baru-2Apa yang tersembunyi di hati memang misteri. Hanya kita dan Tuhan saja yang tahu. Tapi dari sanalah keimanan kita teruji. Bagi mereka yang teguh imannya, ia meyakini apa yang ia rasa juga Tuhan rasa. Perasaan apa yang ia pendam, Tuhan kenal.  Maka ia menjaga dirinya untuk selalu dalam kebaikkan. Memastikan apa yang hinggap di hatinya, harus selalu dalam jalan keridhaan. Seperti Rasulullah, yang selalu berdoa agar terjaga selalu perasaannya. “Ya Allah, jadikanlah aku orang-orang yang apabila berbuat baik aku berbahagia, dan apabila aku berbuat dosa, aku cepat-cepat istighfar”.

Sementara orang yang keliru memaknai imannya. Hanya mengira, apa yang tersembunyi di hatinya. Utuh hanya dirinya sajalah yang tahu. Maka ia pun bebas memaknai perasaannya dengan cara yang keliru. Tanpa beban bila bersikap cela, tak khawatir memendam dendam. Karena ia mengira perasaan itu hanya urusan dengan dirinya saja. Tidak merugikan siapapun.

Continue reading “Bermula dari sebuah perasaan”

Jangan hentikan gemuruh jiwa kita

 

sumber: www.google.com
sumber: http://www.google.com

Ada masa di mana jiwa akan sampai masa redanya. Tak ada lagi gemuruh, kehendak-kehendak yang menyulut. Semua diam. Terhenti dalam waktu  yang sepi. Ini bukan tentang akhir sebuah hayat. Bukan tentang nyawa yang telah hengkang dari jasad. Ini adalah tentang kehendak kita yang terlalu sebentar. Tak berani melampaui lebih jauh.

Perasaan cukup adalah jabakkan. Ia menggoda kita untuk berhenti. Itulah penyebabnya. Sehingga kita memutuskan untuk usai saja. Padahal diri ini masih mampu, masih punya daya. Tapi semua takluk dengan kehendak yang merasa sudah cukup. Maka sebenarnya, kitalah yang meredupkan gemuruh jiwa itu.

Continue reading “Jangan hentikan gemuruh jiwa kita”

Ketaatan Totalitas Hudzaifah

Gagasan  Salman al Farisi untuk membuat parit  dalam perang Khandaq memang cukup cerdas. Itu adalah strategi pertahanan ala Persi.

www.goole.com
http://www.goole.com

Akibatnya, tentara gabungan kaum musryikin Mekkah itu tetap tak berdaya. Mereka hanya mampu mengepung kaum muslimin dengan mendirikan tenda-tenda. Padahal jumlah mereka cukup besar, bila dibandingkan pasukan kaum muslimin yang terkurung.

Dalam detik-detik kegetiran itu, Rasulullah dan para sahabat masih berharap akan datangnya pertolongan Allah. Lalu, langit pun menjawabnya. Pada suatu malam, setelah 1 bulan lebih kaum muslim tertahan dalam kepungan itu. Allah menyelamatkan kaum muslimin dengan menurunkan hujan selebat-lebatnya. Angin kencang serta gertakkan halilintar menjadikan malam itu kian mencekam. Kemah-kemah kaum kafir Qurais pun  terbang tak tentu arah.

Continue reading “Ketaatan Totalitas Hudzaifah”

Selama Kita Meneguhkan Iman, Alam akan Menjaga

Sering kita temukan bahwa orang-orang yang tulus, hidupnya Allah mudahkan. Apa yang rasanya tidak mungkin bisa menjadi sebuah tanduskeajaiban. Imam Junaid Al Baghdadi misalnya. Ia  dikenal sebagai ulama sufi. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengisi pengajian bagi para muridnya. Setiap malam, Imam Junaid berada di masjid besar Baghdad untuk menyampaikan tausiyah. Imam Junaid juga dikenal sebaga ulama yang zuhud ya selalu bersykur atas segala karunia yang Allah berikan kepadanya.

Continue reading “Selama Kita Meneguhkan Iman, Alam akan Menjaga”

Ketika Kita Merasa Aman dengan Dosa Sendiri

Kisah Bani Israil saat Allah tidak menurunkan hujan pada mereka dalam waktu yang lama. Bisa menjadi pelajaran penting bagi kita. Bahwa saat kita merasa aman dengan pembangkangan. Merasa bahwa dosa kita tidak memiliki pengaruh apapun pada alam ini. airSesungguhnya itu adalah sebuah kekeliruan yang besar.

Saat itu doa nabi Musa belum juga terjawab. Ia memohon kepada Allah agar segera diturunkan hujan. Sudah sekitar satu tahun hujan tak kunjung turun. Ummatnya, Bani Israil. Mendesak Musa untuk segera memohon kepada Allah. Mereka sudah cukup menderita akibat musibah ini. Lalu Musa pun mengumpulkan mereka di lapangan. Di sanalah Musa bermunajat. Tapi entah mengapa? Setelah berulang kali berdoa. Allah tetap menangguhkan doa kekasihNya itu.

Continue reading “Ketika Kita Merasa Aman dengan Dosa Sendiri”

Aisyah dan Dugaan yang Keliru

Terbit di Tabloid Gema Baiturrahman, 13 Januari 2011
aisyah

Penduduk Madinah gempar. Betapa tidak, di atas untanya Shafwan ibnul Mu’atthal, lelaki yang tegap dan tampan itu ada Aisyah RA, istrinya baginda Rasulullah. Terang saja beragam sangka menghampiri penduduk Madinah. Bagaimana mungkin istri Rasulullah yang mulia itu, bisa berada di atas untanya Shafwan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Continue reading “Aisyah dan Dugaan yang Keliru”

Ar Rijalul Fajr

Keterjagaan pertama menjelang subuh adalah tawaran cinta. Akan tetapi, bilashalatsubuh kita segera bangkit lalu membasuh wajah dengan wudhu, itulah  namanya cinta yang bersambut. Karena subuh adalah waktu tentang pembuktian cinta. Saat-saat kenikmatan melanjutkan tidur  berada pada titik puncaknya.

Hingga tak semua orang mau menyambut tawaran cinta itu. Hanya sebagian saja. Mereka adalah orang-orang kuat, bukan kuat secara fisik. Tapi jiwanya, karena telah berhasil menaklukkan godaan paling hebat tersebut. Itulah mereka, Ar Rijalul Fajr, manusia-manusia subuh. Orang-orang luar biasa, yang memulai harinya dengan amal-amal yang luar biasa pula.

Continue reading “Ar Rijalul Fajr”

Rencankanlah Sesuatu yang Istimewa bagi Mereka

Kita punya kerinduan apa padamereka, pada wajah-wajah yang semestinya membuat diri ini cemas. orang tua, guru, sahabat atau siapa pun yang telah sangat berjasa terhadap capaian hidup kita hari ini. Cemas, karena hingga kini kita belum mampu membahagiakan mereka. Cemas, sebab dari waktu ke waktu, diri ini lebih sering mengecap manisnya jasa-jasa mereka. Tanpa pernah tahu sampai kapan semua itu berbalas.

Semestinya kita punya sebentuk rindu yang indah terhadap mereka. Rindu yang mampu menghadirkan senyum saat mereka mengetahui, bahwa kebajikannya selama ini telah mengantarkan diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. Karenanya rencanakalah, sesuatu yang istimewa untuk mereka, orang-orang yang telah berjasa itu. Meskipun hanya sekali dalam hidup.

Continue reading “Rencankanlah Sesuatu yang Istimewa bagi Mereka”

Dalam Keterbatasan Kita, Allah Titipkan Cinta

Dalam keseharian kita bisa menyaksikan, bagaimana Allah menciptakan kondisi hambaNya dengan macam rupa. Allah lebihkan sebagiannya, dan Allah uji sebagian lainnya dengan jauh dari kata cukup. Tapi entah mengapa? diri ini lebih sering menilai semua itu sebagai fenomena hidup yang lumrah, bukan dengan kaca mata keimanan. Padahal ada cerminan cinta Allah di sana, yang semestinya bisa membuat diri ini lebih bersyukur.

Sebab, dalam segala keterbatasan yang orang lain miliki, sebenarnya bisa saja Allah limpahkan kepada kita. Akan tetapi, Allah menangguhkannya atau sama sekali memang menjaga kita agar tak mengalami keterbatasan itu. Lantas, bila hati ini bertanya di mana cinta Allah ketika itu, sebenarnya inilah cara Allah menjawab cinta.
Continue reading “Dalam Keterbatasan Kita, Allah Titipkan Cinta”

Memahami Kehendak Jiwa

Sekali waktu mungkin kita pernah berfikir untuk menarik tuas waktu kehidupan kita. Lalu terlempar jauh ke masa lalu. Tepatnya, saat pertama kali kita berdiri di persimpangan, lalu memutuskan untuk mengambil jalan hidup yang sekarang ini. Di sana nanti, kita hanya ingin menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan sederhana, mengapa dulu aku mengambil jalan ini?
Continue reading “Memahami Kehendak Jiwa”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑